Empat Refleksi pada Muharram

empat-refleksi-1

Muharram, tersimpan sejarah maha dahsyat di dalamnya. Bulan pembuka dalam perhitungan tahun Hijriyah ini, setidaknya memiliki empat refleksi yang patut untuk kita renungi bersama.

Refleksi yang pertama yaitu, mengenang heroiknya hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Yastrib—yang kemudian hari dikenal sebagai Madinatul Munawarah (kota Madinah). Penetapan Yastrib sebagai kota tujuan hijrah Rasulullah SAW menjadi pertanda kecerdasan beliau. Di kota inilah, seluruh kabilah bersinggah. Baik itu dari Mesir, Syria, Iran, dan beberapa daerah lain, pernah menyambangi kota ini. Dengan demikian, sepulangnya mereka ke daerah masing-masing, dakwah Rasulullah SAW dapat tersampaikan dan menyebar semakin luas hingga ke daratan Eropa, Afrika, maupun Asia.

Refleksi yang kedua, bulan Muharram harus jadi tarbiyatul Islaamiyyah, atau dapat dipahami sebagai sarana pendidikan Islam. Tahun Hijriyah adalah salah satu dari sekian banyak produk Islam. Seperti yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, tahun Hijriyah ini didasarkan pada peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW. Dengan adanya produk-produk Islam, sudah seyogianya, para pemeluk agama ini mencintai produk dalam negerinya sendiri, bukan malah bersorak-sorai pada produk asing. Sebagai misal, dalam perayaan tahun Masehi yang notabene bukan produk Islam, sebagian umat Muslim merayakannya dengan meriah. Sedangkan kala menyambut tahun baru Hijriyah, malah sebaliknya; sepi, tidak spesial, bahkan mungkin tidak tahu.

Refleksi yang ketiga adalah, sebagai sarana untuk bertafakkur dan bermuhasabah. Waktu itu tidak bisa diputar kembali. Hidup ini akan senantiasa digilas habis oleh waktu, tanpa terkecuali. Namun, yang menjadi poin penting adalah, baik atau tidaknya amalan yang kita lakukan di masa lalu. Jika lebih baik, beruntunglah kita. Jika sama saja, merugilah kita. Sedangkan jika malah memburuk, celakalah kita. Bukankah begitu, Rasulullah SAW bersabda? Melalui bulan Muharram, harusnya ini menjadi momentum yang pas untuk merenungi dosa di waktu-waktu ke belakang. Selain itu juga untuk berazam menjadi lebih baik di masa yang akan datang, serta tentu, bersyukur sebanyak-banyaknya pada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.

Refleksi terakhir, yaitu refleksi keempat, tentang tujuan hidup. Sudah sepantasnya, tujuan hidup seorang muslim tidak hanya sebatas kebaikan dunia. Tapi juga kebaikan akhirat dan juga agar dihindarkan dari siksa api neraka. Lebih lanjut lagi, Rasulullah SAW telah mengajarkan sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca sebelum salam dalam tasyahud akhir (berlindung dari azab neraka, berlindung dari azab kubur, berlindung dari fitnah kehidupan dan kematian, serta berlindung dari finah Dajjal).

*disarikan dari Kajian Sabtu Dhuha, 12 November 2016.

 

Related posts

*

*

Top