Ini Baru Pahlawan : Memperjuangkan “Si Unyil” Sampai Mati

 

(foto: tempo.co)

(foto: tempo.co)

Siapa yang tidak tahu dengan serial si Unyil dan Pak Raden? Masa kecil yang penuh tawa disuguhi dengan cerita si Unyil dan teman-temannya. Pak Raden alias Drs. Suyadi lahir di Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 – meninggal di Jakarta, 30 Oktober 2015 pada umur 82 tahun. Ia  adalah pencipta Si Unyil, sebuah film seri televisi Indonesia. Suyadi menciptakan Si Unyil agar terdapat acara mendidik untuk anak-anak Indonesia pada tahun 1980-an. Kemudian, Unyil diformat ulang untuk sesuai dengan era tahun 2000-an, sehingga tetap dapat digemari anak-anak Indonesia. Hasil dari format ulang acara Si Unyil adalah Laptop Si Unyil. Ia juga dikenal sebagai Pak Raden dalam acara Unyil.

Drs Suyadi atau yang akrab disapa Pak Raden kini memang sudah tiada. Lulusan Seni Rupa ITB tersebut seharusnya memang dapat menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, dengan menciptakan tokoh dan karakter si Unyil beserta teman-temannya (Cuplis, Usri, Usro, Pak Ogah, Pak Raden, Melani, dll). Tetapi, hingga masa usia nya habis, Suyadi tidak mampu mengembalikan hak cipta si Unyil ini.
Dulu Suyadi mengajar sebagai dosen desain komunikasi visual di ITB dari tahun 1958. Tetapi pekerjaan dosen ditinggalkan karena ia merasa bisa lebih mendidik banyak orang lewat si Unyil. Cakupannya luas, seluruh indonesia bisa menyaksikan. Kalau dosen hanya terbatas dalam cakupan kelas saja.
Sosok Pak Raden diciptakan sengaja sebagai tokoh antagonis, supaya cerita si Unyil tidak membosankan. Ia ingin menciptakan karakter yang dibenci dan ditakuti. Tujuan membuat tokoh Pak Raden galak hanya ingin menciptakan karakter antagonis saja, supaya si Pak Raden ini tidak disenangi oleh anak-anak. Tapi justru beberapa orang malah ada yang selalu menunggu kehadiran pak raden. Suatu ketika ada orang Ambon yang senang menonton si Unyil. Dia menonton hanya untuk menunggu Pak Raden. “Mana ini jawa gila? Kok belum muncul?” katanya.

Namun tumpukan rupiah yang diharap dapat menopang masa tuanya dari hasil jerih payahnya itu pupus sudah. Ironis memang, ketika seorang pencipta karya besar dan fenomenal, harus terpuruk dalam renta dan kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya.

Semua itu lantaran Pak Raden merasa tidak mendapatkan royalti dari hasil karyanya. Ia mengaku, royalti yang menjadi haknya, tidak pernah sampai ke rekeningnya lantaran pihak Perusahaan Film Negara (PFN) bersikukuh menjadi pihak yang berhak mendapatkan royalti dari ‘pertunjukkan’ si Unyil yang wara wiri belakangan ini di televisi dan iklan.

Hal tersebut, menurut PFN, sesuai dengan kesepakatan antara PFN dan Pak Raden saat dimulainya kerjasama pembuatan kisah Si Unyil yang ditayangkan TVRI saat itu. Meski membenarkan penyerahan hak cipta tokoh si Unyil, namun Pak Raden merasa, penyerahan tersebut dilandaskan atas jangka waktu tertentu, yang sedianya sudah berakhir sejak tahun 2000 silam.

Dengan kata lain, selama kurun waktu 12 tahun, Pak Raden tidak menerima hasil royalti dari munculnya si Unyil di televisi termasuk rencana pembuatan produksi si Unyil dalam bentuk animasi.

Hal tersebut sangat berpengaruh sekali dengan penghasilan Pak Raden. Sebagai tokoh pencipta si Unyil yang fenomenal, Drs Suyadi hanya tinggal di sebuah rumah petak kecil di kawasan padat penduduk, berbagi dengan ruangan kreatif Pak Raden untuk sanggar membuat boneka dan lukisan. Tidak ada perabot yang berharga di dalam rumah kecil tersebut. Hanya perabot standar yang tampak sudah usang.

Hingga di akhir usianya, hak cipta tersebut tidaklah sampai pada tangan ajaib tersebut. Akan tetapi, Suyadi akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia dengan nama Pak Raden sebab karyanya yang fenomenal dan mengangkat sosial serta budaya Indonesia.

*dikutip dari sini

Related posts

*

*

Top