Inilah Macam-Macam Hukum Akal

(Sumber gambar: google)

(Sumber gambar: google)

 

Hukum akal dibagi menjadi tiga. Pertama, Wajib aqli. Hukum pertama ini menunjukkan bahwa sesuatu pasti ada. Hukum wajib dibagi menjadi dua: wajib dhohuri dan wajib nadhori. Wajib dhohuri adalah segala hal yang diterima akal dan tanpa dipikir. Wajib dhohuri juga tidak perlu dibuktikan karena sudah jelas logikanya. Contohnya, setiap benda mesti ada gerak dan diam. Wajib nadhori merupakan segala hal yang diterima akal setelah dipikirkan, dibahas, diuraikan dengan bukti-bukti. Selanjutya, hal tersebut dapat diyakini kebenarannya. Contohnya, mempelajari sifat-sifat Allah adalah dengan penerangan dan dalil yang kukuh. Allah bukan benda yang dapat dilihat dan diterima oleh akal tanpa dibuktikan.

Kedua, Mustahil aqli. Hukum ini menunjukkan bahwa sesuatu yang pasti kemustahilannya. Hukum mustahil dibagi menjadi dua: mustahil dhohuri dan mustahil nadhori. Mustahil dhohuri merupakan segala hal yang tidak diterima akal tanpa perlu difikirkan atau dibuktikan. Contohnya, kejadian siang dan malam. Mustahil nadhori adalah segala hal yang ditolak oleh akal setelah dipikir, dibahas, diuraikan dengan dalil yang kukuh. Kemudian hal tersebut dipahami dan diyakini bahawa ia tidak boleh diterima akal. Contohnya, ada yang menyaingi kekuasan Allah.

Ketiga, Jaiz aqli. Hukum ketiga  ini menunjukkan bahwa sesuatu memiliki kemungkinan ada atau tidak ada. Kemungkinan antara keduanya pun sama. Hukum jaiz memiliki dua jenis: jaiz dhorudi dan jaiz nadhori. Jaiz dhoruri merupakan perkara yang tidak membutuhkan pemikiran panjang. Misalnya, apakah tubuh kita bergerak atau tidak. Jaiz nadhori merupakan perkara yang memerlukan pemikiran panjang. Misalnya, tongkat nabi Musa yang dapat berubah menjadi ular ketika dilemparkan. Bagi manusia, hal tersebut tentunya tidak mungkin. Namun dengan kekuasaan Allah hal tersebut menjadi mungkin. Buktinya tongkat tersebut dapat berubah menjadi ular.

Allah memiliki sifat jaiz. Sifat jaiz Allah ada satu: membuat atau tidak membuat sesuatu. Termasuk ketika Allah menentukan nasib tongkat nabi Musa. Allah memiliki kekuasaan untuk mengubah atau tidak mengubah tongkat nabi Musa menjadi ular. Bagi Allah, tidak ada yang tidak mungkin di bumi ini. Artinya, semua yang terjadi dalam bumi ini merupakan sifat jaiz Allah. Namun, Allah tetaplah akan memenuhi semua janji-janjinya.

Save

*

*

Top