Mengenal Lebih Dekat Tafsir Al Munir

(pic : bukukita.com)

(pic : bukukita.com)

Pada kajian Sabtu Dhuha, 29 Oktober 2016 lalu, Bidang Dakwah Salman ITB mengadakan bedah buku tafsir Al Munir karangan Prof. Dr.Wahbah Az Zuhaili. Materi bedah buku ini disampaikan oleh Ustadz Yana Ryantresna. Bertempat di ruang utama Masjid Salman ITB, ustadz Yana membagi topik bahasan bedah buku menjadi empat topik.

Topik pertama berbicara tentang tafsir Al Munir secara umum. Dari segi bahasa, nama Al Munir sendiri memiliki pengertian mursilun nur, yaitu terpancarnya cahaya yang terang benderang. Sedangkan secara garis besar, konten tafsir ini membahas tiga bahasan pokok sekaligus; akidah, syariah, dan manhaj. “Oleh karena itu tafsir Al Munir merupakan tafsir karangan ulama mutaakhirin yang paling lengkap,” ujar Yana.

Pada topik kedua, Yana membahas tentang sosok pengarang tafsir Al Munir, yaitu Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili. Beliau adalah seorang guru besar yang menghabiskan masa hidupnya untuk mengabdi di Damaskus, Suriah. Ahli tafsir lulusan Universitas Al Azhar, Kairo ini, selain piawai dalam menafsirkan Al Quran sesuai kaidahnya, beliau juga seorang ahli ushul fikih dan fikih. Latar belakang beliau inilah yang pada akhirnya menambah cita rasa tafsir Al Munir begitu kental dengan nuansa fikih.

Adapun keunggulan tafsir Al Munir menjadi topik bahasan ketiga. Dalam pemaparannya,  Yana menyebutkan bahwa setidaknya ada empat keunggulan tafsir Al Munir dibandingkan buku-buku tafsir lain. “Keunggulan yang pertama adalah membagi ayat menjadi judul-judul tertentu. Misalnya bab tentang berbakti kepada orang tua dan bab tentang warisan,” tuturnya.

Selain itu, Yana menambahkan tafsir Al Munir juga memaparkan penjelasan umum tiap surat. Sedangkan keunggulan lain berupa pembahasan dari segi balaghoh/bahasa arab/i’rab. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa pengarang buku ini adalah seorang ulama yang ahli dalam berbagai bidang. Maka tidak mengherankan jika selain menampilkan keunggulan-keunggulan di atas, tafsir Al Munir juga menyajikan produk hukum yang bisa dipetik dari ayat. Sedangkan asbabun nuzul ayat, tentu telah menjadi ciri khas semua buku tafsir, tidak hanya tafsir Al Munir.

Pada pembahasan terakhir, Yana  menjelaskan tafsir ayat Al Maidah 51—ayat yang belakangan ini sedang banyak diperdebatkan—berdasarkan buku tafsir Al Munir. Salah satu hal yang masih dalam perdebatan Al Maidah 51 adalah tafsir kata auliya’. Beberapa pihak mengatakan auliya’ bermakna teman, sedangkan beberapa orang memilih pendapat bahwa auliya’ adalah pemimpin.

“Pada tafsir Al Munir, pemaknaan atas kata auliya’ dipecah menjadi dua. Makna pertama adalah Al Walayah yang berarti teman setia, penolong, sekutu. Sedangkan makna kedua adalah Al Wilayah yang bermakna pemimpin suatu wilayah,” paparnya.

Pada akhir penjelasannya, Yana menyimpulkan, jika orang Yahudi dan Nasrani saja tidak boleh dijadikan teman setia (Al Walayah)—terlepas dari pengaturan muamalah dengan non muslim—apalagi dijadikan pemimpin (Al Wilayah). “Semoga kita termasuk umat Rasulullah yang senantiasa mentadabburi Al Quran. Aamiin,” ucapnya.

Related posts

*

*

Top