Indonesia Darurat Kekerasan Seksual, Peran Masjid Dibutuhkan

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Awal tahun 2016, publik dikejutkan dengan beberapa kasus kekerasan seksual di Tanah Air. Semisal kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang siswa SMP di Bengkulu, atau kasus seorang perempuan pegawai pabrik di Tangerang yang ditemukan tak bernyawa di kamar kos dalam keadaan telanjang bulat dengan gagang cangkul tertancap di kemaluannya. Yang mengerikan, pelaku kejahatan keji tersebut masih berusia belia. Kasus-kasus ini menjadi peringatan bagi publik bahwa Indonesia telah memasuki kondisi darurat kekerasan seksual.

Menurut Catatan Tahunan 2016 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), kasus kekerasan seksual berada di peringkat kedua dari seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan yang mencapai 2.399 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus pencabulan sebanyak 601 kasus (18%), dan pelecehan seksual sebanyak 166 kasus (5%).

Di Jawa Barat sendiri, kekerasan seksual –khususnya pada anak-anak—mengalami peningkatan signifikan selama 5 tahun terakhir. Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar, kasus kekerasan seksual hingga bulan Mei lalu saja telah mencapai angka 60.

Jenis kekerasan seksual di sini beragam jenisnya. Di antaranya pencabulan, pemerkosaan, dan trafficking atau Pekerja Seks Komersial (PSK). Ini belum ditambah dengan kasus-kasus yang belum dilaporkan.

Keadaan ini diperparah dengan stigma yang beredar di masyarakat Indonesia bahwa seksualitas tabu untuk dibicarakan. Khususnya di lingkungan keluarga, yang semestinya memberikan edukasi seks pada masing-masing anggota sejak dini.

“Terjadinya pelecehan seksual itu akibat ketidakpahaman orang tua yang tidak mendidik anaknya mengenai seks sejak dini, jadi timbul sikap tidak acuh,” tutur Psikolog Anak Dra. Iip Fariha M.Psi., Jumat (15/7).

Lebih lanjut, pendidikan seksual bahkan harus ditanamkan sejak dalam kandungan. Seperti membedakan perlakuan kepada anak laki-laki dan perempuan. Ini penting. Iip menjelaskan, masa-masa krusial pembentukan identitas gender ada pada 11 tahun pertama seorang anak. Hal-hal yang biasanya luput karena dianggap remeh, ternyata berakibat besar, terutama pada perilaku berdasarkan jenis kelamin.

“Peran sosial itu sangat penting, dan pendidikan seks harus disosialisasikan kepada anak sejak awal,” katanya.

Dalam Islam, pendidikan seksual memang telah diatur secara jelas. Nabi Muhammad SAW. mencontohkan, anak-anak yang berbeda jenis kelamin maupun sama, tidak boleh tidur di bawah satu selimut.  Orang tua pun dianjurkan untuk tidak tidur bersama dengan anaknya. Ada pula konsep mahram, aurat, dan lain-lain.

 

Salman Peduli Nasib Anak Jalanan

Masjid Salman ITB, sebagai Masjid Pelopor Peradaban, menunjukkan kepeduliannya pada pendidikan seks. Kepedulian tersebut ditunjukkan dengan diadakannya berbagai kegiatan. Misalnya, edukasi kesehatan reproduksi Sekolah Pra Nikah, Seminar “Pencegahan Baligh Usia Dini” oleh Unit Pembinaan Anak Salman (PAS), serta yang akan diselenggarakan pada Ahad, 7 Agustus mendatang, Sex Education Workshop untuk anak jalanan. Workshop ini merupakan salah satu rangkaian event bulanan Salman, Salman Days Out Picnic.

Manajer Biro Kehumasan Salman, Tristia Riskawati menjelaskan, diadakannya event tersebut didasari topik pelecehan seksual yang tengah hangat di kalangan keluarga.  Mengingat kasus kekerasan seksual di kalangan anak jalanan yang sangat tinggi, Masjid Salman memberikan solusi dengan mengadakan kegiatan edukasi seksual. Tujuannya, agar anak jalanan mampu menghargai dirinya dengan mengenal apa itu pelecehan seksual, bagaimana pencegahannya, dan apa saja kegiatan positif yang dapat mereka ikuti.

Main event Sadop (Salman Days Out Picnic –Red.) kali ini adalah menggelar pendidikan seks untuk Anjal (Anak Jalanan), sebab di kalangan Anjal rentan terjadi pelecehan seksual akibat ketidakpahaman norma,” jelasnya.

Anak-anak jalanan yang akan diundang nanti berasal dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) atau komunitas terpilih. Tristia menerangkan, ini agar anak jalanan yang datang memiliki keterikatan dengan LSM atau komunitas yang bersangkutan, sehingga edukasi yang diberi bisa berjalan secara berkelanjutan. Ia berharap, anak-anak tersebut mampu menjadi pionir bagi anak-anak lainnya.

Pelecehan seksual dan perilaku seks bebas merupakan masalah yang marak ditemukan di kalangan anak jalanan. Ini merupakan hal yang urgen diatasi, mengingat mudahnya penularan penyakit berbahaya seperti penyakit kelamin dan HIV AIDS. Di sisi lain, seks bebas adalah salah satu dosa besar dalam agama Islam. Di sinilah peran Umat Muslim –khususnya lembaga agama Islam dan masjid dibutuhkan.

“Kita ingin mencegah mereka melakukan dosa keji itu. Kita merangkul juga anak jalanan, itu sebagai bentuk masjid rahmatan lil ‘alamin,” Tristia menutup pembicaraan.[ed: Dh]

Related posts

*

*

Top