Jauhkan Diri dari Api Neraka dengan Adab dan Ilmu*

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

*Disadur dari ceramah tarawih oleh Dr. Adian Husaini

Allah menjelaskan dalam surat At-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,”

Allah menyuruh kita sebagai manusia untuk memelihara diri dan keluarga kita dari api neraka. Menurut ulama, cara untuk memelihara diri dari apa neraka baik untuk diri kita juga keluarga kita adalah dengan adab dan ilmu. Sebagai jalannya, kita bisa berteman dengan para fuqaha dan ulama agar bisa mengambil ilmu dari mereka.

Belajar 1 bab tentang adab, lebih mulia daripada 70 bab tentang ilmu.

Maka dari itu, dalam Islam, adab adalah hal yang ditekankan. Ibaratnya dua per tiga agama (sisanya ilmu).

Sementara itu di barat, pendidikan karakter adalah hal yang ditekankan. Dalam melakukannya, dibutuhkan penerapan dan penjagaan kedisiplinan. Namun, dalam Islam, adab lebih luas daripada karakter karena dasarnya adalah ilmu. Itulah kenapa menuntut ilmu diwajibkan dalam Islam.

Misalnya, saat kita mengetahui  hadits,  “Tidak termasuk orang mukmin ketika Ia membiarkan saudaranya kelaparan” . Seharusnya kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam artian, kita tidak bisa mengartikan sebuah hadits secara teks namun kita dapat memaknainya dalam arti luas.

Allah SWT menyuruh Rasulullah menyiapkan ummatnya untuk berperang agar ada pengetahuan militer sebagai penunjang tegaknya peradaban. Kita tidak bisa mengartikan secara gamblang bahwa Rasul menyuruh hanya untuk sekadar perang, akan tetapi ada yang lebih dari itu.

Rasulullah sukses mengubah dunia buta tulis menjadi dunia haus tulisan dalam arti haus ilmu. Hal ini pun menyebabkan bangkitnya peradaban Islam. Imam Syafi’I berkata, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali karena 6 hal, salah satunya adalah kecerdasan dan sikap haus ilmu.

Ibnu Sina membagi kelezatan pada manusia itu dalam dua bagian; lezat indrawi dan fikri. Intinya ada pada lezat fikri, yang artinya ada lezat dalam meraih ilmu yang mengakibatkan lahirnya lazzaatul iman (lezatnya iman). Lezatnya iman menjadi akibat dari sikap yang telah kita lakukan dalam memelihara diri kita dan keluarga, supaya terhindar dari api neraka.[ed: Dh]

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

*

*

Top