Periode Kritis (Dunia) dan Fleksibilitasnya*

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Amal saleh dan ketakwaan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Untuk meningkatkan amal shaleh, maka harus ada tindakan realisasi ketakwaan kita agar ketakwaan kita senantiasa dapat menjadi lebih baik.

Rasulullah saat ini sedang menunggu kita di alam barzah. Beliau wafat sekitar 1383 tahun yang lalu.  Kita bisa melihat, Rasulullah hidup hanya 63 tahun. Dari 63 tahun itu, 23 tahun dilaluinya sebagai Rasul dan waktu produktifnya dalam berdakwah hanyalah 23 tahun itu.

Suatu fenomena yang pendek tetapi menentukan, sebagaimana kehidupan di dunia menjadi sebuah fenomena kritis atau periode kritis. Dengan demikian, waktu hidup di dunia sebenarnya merupakan waktu yang kritis bagi manusia. Di sinilah manusia dapat mengumpulkan amal dan setelah itu mempertanggungjawabkannya.

Di awal surat Al-Baqarah, manusia dibagi menjadi 3, yaitu orang yang beriman, munafik dan kafir. Sebagai muslim seyogyanya bersyukur karena termasuk ke dalam kelompok orang yang beriman. Cara bersyukur tidak cukup hanya dengan berdzikir, akan tetapi  harus menjaga hal-hal yang diperintahkan Allah untuk sukses di masa kritis atau di dunia ini.

Dengan demikian, muslim  dalam menjalani kehidupan dan melakukan amalan semuanya dibatasi oleh koridor-koridor yang rigid  (kaku) . Termasuk ketika berinteraksi dengan orang-orang yang tidak mengakui periode kritikal atau kehidupan dunia adalah suatu masa kritis untuk menghadapi alam selanjutnya.

Seperti yang kita ketahui dalam ayat terakhir Q.S Al-Kafirun, tidak dipermasalahkan jika orang lain tidak mau meyakini akan dunia yang sementara ini dan persiapannya. Namun, apabila ada intervensi tertentu yang kemudian akan mempengaruhi kualitas kita dalam melalui periode ini, maka kita hanya diberikan suatu pegangan yang fleksibel tetapi dalam koridor yang rigid.

Misalnya, di dalam Islam tidak dibolehkan membicarakan sesuatu yang benar namun orang yang dibicarakannya itu tidak suka (ghibah), apalagi menghina. Maksudnya, hal-hal yang dibicarakan adalah benar dan orang yang dibicarakan tersebut tidak berada di tempat orang-orang yang sedang membicarakan.  Sedangkan orang yang dibicarakan tidak akan suka jika mendengar pembicaraan tersebut. Itulah keyakinan kita. Namun, keyakinan tersebut seolah-olah tidak diapresiasi oleh mereka yang seakan bersikap adil dan biasa saja.

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk membalikkan atau membantah argumentasi mereka itu. Namun begitulah orang-orang kafir, seperti yang telah Allah jelaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 6-7. Tidak ada gunanya menasehati orang-orang kafir. Akan tetapi, apabila kita biarkan maka akan menjadi keadaan darurat dalam periode kritikal kita ini.

Setelah alam barsyah, kita akan menemui alam mahsyar. Oleh sebab itu, janganlah lupa, satu-satunya manusia yang dapat memberikan tambahan bagi amalan kita nanti (syafa’at) hanyalah Rasulullah SAW.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 38-39 yang merupakan ayat-ayat akhir dari sejarah penciptaan Nabi Adam. Nabi Adam diciptakan dengan sesuatu yang melebihi malaikat, diberikan kenikmatan surgawi dan diberikan pantangan. Namun, Nabi Adam melanggar pantangan tersebut. Nabi Adam pun bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Namun, tetap saja ada konsekuensi dari pelanggaran itu, yakni seperti yang Allah perintahkan dalam ayat 38 dari surat Al-Baqarah. Nabi Adam diturunkan dari surga menuju  bumi.

Disana dijelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk bagi orang-orang yang mau mengikuti petunjuk tersebut, lalu maka dia tidak akan bersedih hati. Adapun orang-orang kafir ataupun munafik, mereka kekal di dalam neraka.

Boleh saja meremehkan surga dan neraka. Akan tetapi,  jangan lupa bahwa kita berada di periode kritis (dunia) dan Rasulullah sudah menunggu di Alam Barzah. Kita memiliki fleksibilitas dalam menjalankan keyakinan dan aqidah kita dalam islam, tapi tetap waspada dalam koridor yang Allah telah maktub dalam Al-Quran sebagai pegangan.

*Disarikan dari khutbah Jumat  oleh Dr. Ir. H. Suyatman, MSc.

*

*

Top