Menyahut Penggugat Tuhan

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Oleh: Rio Satriyo H. – Aktivis Unit AKSARA Salman ITB

Saya agak tergelitik ketika ada seorang kenalan di jejaring sosial media mem-posting opininya tentang kasus perkosaan disertai pembunuhan Enno Farihah dan Yuyun di timeline-nya. Masalahnya, yang bersangkutan mengaitkan kasus perkosaan tersebut dengan menyerang dan menyudutkan keyakinan Islam. Saya pun merasa wajib untuk menanggapi opini seperti ini.

Postingan tersebut tampak sarkastik. Kira-kira begini isi opini tersebut, ‘Tuhan tak akan menguji manusia dengan cobaan yang tak mampu ia tanggung. Kecuali kalau diperkosa ramai-ramai sampai mati.” Ada dua hal yang saya tangkap di sini. Pertama, beliau menyatakan Tuhan itu tidak adil dan kejam. Yang kedua, kalau Tuhan memang ada, mengapa Dia membiarkan kekejaman seperti ini terjadi?

Mungkin sebenarnya banyak juga orang yang bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan perbuatan biadab seperti ini? Mengapa Enno dan Yuyun harus mengalami penderitaan sekejam itu? Begitu pula Enno dan Yuyun lain yang mengalami penderitaan serupa.

Tempat hidup kita sekarang ini adalah dunia, bukan surga. Dunia adalah tempat Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai masalah, agar manusia menjadi lebih bijak mengelola isi dunia. Bagi seorang muslim, dunia ibarat sebuah penjara yang penuh dengan ujian dan kenikmatan yang semu. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Banyak orang-orang yang terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka berusaha mengejar-ngejar materi dunia sehingga melupakan akhirat. Mereka menganggap bahwa dunia inilah surga mereka, padahal bukan. Sehingga mereka sering merasa kecewa apabila berhadapan dengan masalah di luar ekspektasi mereka.

Akan tetapi, bukankah peristiwa yang dialami Enno dan Yuyun tergolong sangat kejam? Mereka diperkosa bergiliran sampai meregang nyawa. Bahkan Enno dibunuh dengan cara yang di luar perikemanusiaan. Benar, saya setuju bahwa hal tersebut sangatlah kejam. Saya bahkan sampai miris dan menitikkan air mata saat pertama mendengar berita ini. Para pelaku harus dihukum setimpal dengan tindakan yang sudah mereka lakukan.

Agar peristiwa serupa tidak terulang kembali, ada beberapa hal yang layak kita pertimbangkan. Pertama, perlu dibuat sebuah kurikulum pendidikan baru yang mengajarkan khusus tentang budi pekerti dan akhlak baik. Hal ini harus upayakan untuk memperbaiki moral generasi muda sebagai penerus bangsa. Dengan menanamkan nilai kedisiplinan dan kesantunan sejak dini melalui pendidikan di sekolah dan rumah, maka diharapkan ketika dewasa, anak-anak Indonesia akan memiliki moral yang jauh lebih baik.

Untuk sanksi bagi pelaku kejahatan seksual seperti ini, saya setuju apabila hukuman yang diberikan dapat memberikan efek jera. Dalam hukum Islam sendiri, bentuk hukuman kejahatan ini sudah ada aturannya seperti hukuman pengasingan (penjara), dan hukuman mati (qisas) apabila korban sampai meninggal. Hukuman seperti ini dapat membuat masyarakat takut bila akan melakukan perbuatan kriminal serupa.

Mempersalahkan Tuhan terhadap peristiwa yang terjadi tidaklah berguna. Kita tidak tahu hikmah sebenarnya dari kejadian ini. Kehidupan Enno dan Yuyun di dunia ini memang telah berakhir, perjuangan mereka berdua telah tuntas dan kehidupan mereka di akhirat baru saja dimulai. Mereka telah dibebaskan dari kerasnya ujian di dunia ini melalui sebuah kematian. Sedangkan kematian hanyalah sebuah pintu menuju dimensi lain, proses menuju kehidupan hakiki yang pasti kita semua akan alami.

Semoga peristiwa dan penderitaan memilukan yang dialami Enno dan Yuyun di dunia ini menghapus segala dosanya semasa di dunia. Sehingga di akhirat kelak kedua almarhumah dan korban-korban lainnya mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.[ed: Dh]

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

*

*

Top