[Buletin] Suami Tidak Memberi Nafkah*

2016-06-09 01.40.35 2_resized(Ilustrasi: Nadhira R.)

*Pojok Konsultasi Keluarga, diasuh oleh Adriano Rusfi (Psikolog Keluarga dan Anggota Dewan Pakar Salman ITB)

 

Pertanyaan:

Bismillah. Pak Ustaz, bagaimana jika suami saya sudah tidak memberikan nafkah, tetapi kondisinya sekarang masih serumah dengan saya. Boleh tidak jika saya mendiamkan suami saya? Jazakallah khair.

(Hamba Allah, 08886363***)

Jawab:

Ibu Hamba Allah yang baik, mencari nafkah dan menafkahi keluarga adalah kewajiban mutlak seorang suami. Seorang suami yang tak mencari dan memberikan nafkah kepada keluarganya adalah suami yang telah merobohkan fungsinya sendiri sebagai seorang qawwam (pemimpin dan penegak) keluarganya. Bahkan, salah satu penyebab pertama dan utama atas dibenarkannya perceraian adalah ketika seorang suami tidak menafkahi keluarganya dalam rentang waktu tertentu.

Untuk itu, Ibu berhak untuk mempertanyakan dan mendesak suami agar kembali melaksanakan fungsinya. Utamanya, dalam menjemput rezekinya, rezeki istrinya, anak-anaknya dan orangtuanya, serta rezeki orang-orang lain yang Allah titipkan kepadanya. Sungguh, seorang suami yang malas mencari nafkah adalah laki-laki yang zalim kepada banyak pihak, karena Allah telah menitipkan rezeki banyak pihak kepadanya.

Tidak salah jika Ibu mengancamnya untuk melakukan gugatan cerai kepada suami. Hal ini karena cerai adalah perbuatan yang dihukumi makruh sedangkan tak menafkahi keluarga dihukumi haram dalam Islam. Jangan sampai yang makruh dihindari, tapi yang haram malah dikerjakan. Tentunya cukup sampai ancaman saja ya, Bu. Semoga tidak perlu dilaksanakan, karena begitu banyak mudarat dari sebuah perceraian.

Jika ancaman gugat cerai ini juga tetap tak menghasilkan perubahan sikap dan perilaku suami ibu, maka Ibu bisa mendiamkannya. Bahkan ibu bisa “mogok” dari melaksanakan kewajiban terhadap suami. Karena seseorang yang tak bisa melaksanakan kewajibannya, juga tak berhak untuk menuntut hak-haknya. Namun, harus disadari oleh keduanya bahwa sama-sama tak melaksanakan kewajiban adalah hal yang buruk dalam rumah tangga.

Di samping itu, Ibu juga bisa meminta bantuan pihak ketiga, seperti keluarga suami, teman dekat suami, orang kepercayaan suami, atau keluarga Ibu sendiri. Mereka dapat mengingatkan suami ibu agar melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan kepala keluarga. Jangan enggan menggunakan bantuan pihak ketiga dengan alasan ini adalah urusan internal keluarga atau tak ingin membuka aib keluarga. Sebagaimana halnya menikah yang memerlukan kehadiran pihak ketiga, yaitu saksi, maka dalam mempertahankan keluarga pun sama. Terlalu banyak perceraian terjadi karena keengganan dalam melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan masalah.

Terakhir, banyak-banyaklah berdoa dan memohon kepada Allah agar Dia membukakan hati, meringankan langkah, dan memperlancar rezeki suami Ibu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Related posts

*

*

Top