[Buletin] Panen Cinta di Bulan Mulia (1)

(Foto: Nadhira R.)

(Ilustrasi: Nadhira R.)

Hanya Allah yang tahu perjalanan jiwa seorang manusia. Kapan ia jatuh, kapan ia bangkit, dan kapan ia berlari lurus di jalan-Nya. Ia juga Yang Maha Bijak menentukan bagaimana hidayah itu turun. Melalui kejadian yang dramatiskah, atau lewat hal sederhana macam celetuk kanak-kanak.

Seperti yang dialami seorang murid SMP, belasan tahun lalu. Hidup Yohanes Hendra Purnama tak lagi sama sejak sebuah pertanyaan usil menyelinap ke dalam benak, “Kenapa, sih, banyak orang menganut agama Islam?” Pertanyaan itu muncul sejak ia pindah rumah ke Banjaran, Bandung,  daerah perkampungan dengan nuansa Islami dan kekeluargaan yang erat.

Berawal dari peristiwa pembakaran Alquran oleh murid sekolah yayasan Katolik di Cianjur. Apes, Hendra bersekolah di yayasan yang sama, berlokasi di Kota Bogor. Berhari-hari sekolahnya dijaga aparat kepolisian, guna menghindari amukan massa. “Kata Ibuku, “Kamu pindah (sekolah) aja, lah.” Ketika pindah itu, ditarik dari lingkungan aku, aku (jadi) berpikir,” kisahnya, Rabu (18/5).

Di Banjaran – lingkungan yang sama sekali baru untuk Hendra itu, tidak ada gereja sama sekali. Ia juga melanjutkan sekolah di SMP tanpa pelajaran agama Katolik di dalamnya. Dengan hanya kepala sekolah dan guru agama yang mengetahui status agamanya, Hendra terpaksa mengikuti pelajaran agama Islam. Kerahasiaan itu wajib dijaga. Karena kalau tidak, ia bisa dirundung habis-habisan.

“Pernah, sih, sekali dipepet ke tembok, disuruh baca Al-Fatihah sama anak-anak. Untung waktu itu sudah bisa,” tuturnya tertawa kecil.

Walau sempat mengalami masa-masa sulit, keingintahuan Hendra akan Islam terus membesar. Apalagi ditambah dengan kedekatan pria yang sempat aktif di Salman Films itu dengan sang guru agama. Puncaknya, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat saat duduk di bangku kelas 3 SMP.

Perjalanan hijrah novelis itu masih panjang. Saat itu rasa malas serta ibadah hanya karena diajak teman, masih jadi penghambat. Tapi ia berupaya untuk tidak menyerah, terus mengingat-ingat alasannya dulu Hijrah ke Islam.

“Saya orang yang pindah agama di tengah-tengah,” katanya. “Itu berimbas ke ibadah, dan mungkin nikmatnya beda.”

Ya. Memperjuangkan cinta Allah memang nikmat, apapun yang jadi pemicunya. Kenikmatan tersebut juga dirasakan Faisal Tahir Rambe, aktivis Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB. Ia yang dahulu jarang membaca Alquran, kini rutin khatam setiap bulan karena ujian yang tak ia sangka-sangka.

“Waktu SMA saya mengalami musibah,” tuturnya. “Ujiannya itu berupa turunnya peringkat saya, dari 1 ke 3.”

Lama berada di puncak lalu harus turun, membuat mahasiswa Teknik Material ITB angkatan 2014 itu terpukul. Usai diceramahi kedua orang tua, ia pun terilhami untuk mencoba mengkhatamkan Alquran. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia berhasil.

Ia lantas termotivasi untuk meneruskan keberhasilan ini menjadi sebuah kebiasaan. Sebulan kemudian, bertepatan dengan bulan Ramadhan, Faisal kembali meraih targetnya. “Kalau musibah ini enggak turun ke saya, mungkin sampai sekarang saya masih jarang baca Alquran,” ungkapnya.

Hijrah tak semata-mata berarti pindah dari hitam ke putih. Di sana ada perjalanan, perjuangan, dan kehendak ikhlas menggapai ridha-Nya. Tak ada pula alasan yang sepele, pun tiada pergulatan yang mudah. Semuanya adalah proses, di jalan yang mendaki lagi sukar ini.

Di bulan Ramadhan, bulan di mana pintu surga dibuka selebar mungkin, tak ada salahnya kita mencoba. Minimal, coba menjauh dari hal-hal yang dibenci Allah. Lantas, bagaimana jika untuk salat saja masih enggan?

“Syaratnya adalah iman,” jelas Manajer Bidang Dakwah Salman ITB, Ustadz Yayat Supriatna. “Dengan iman itu, maka deraslah limpahan hidayah Allah. Entah dengan ilmu, entah dengan kejadian-kejadian di sekelilingnya, itu akan jadi petunjuk.”

Katanya, Allah hanya akan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya, dan meridhai orang-orang yang ridha pada-Nya –cinta-Nya tak akan pernah bertepuk sebelah tangan. Maka jika hasrat untuk tilawah Alquran lebih giat, membiasakan salat sunnah rawwatib, atau rela mengorbankan waktu istirahat demi tarawih terbit dalam diri kita, bersyukurlah. Mungkin itu adalah isyarat perjalanan cinta kita dengan Yang Maha Pengasih. Semoga tak berakhir di penghujung Ramadhan ini, namun langgeng sampai akhir hayat.[ed: Dh]

Related posts

*

*

Top