Anda Beriman? Maka Bersabarlah*

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Kita sudah sering mendengar perintah Allah tentang sabar. Kata “sabar” ini muncul sebanyak 58 kali dalam Al-Quran, dengan total 105 kali termasuk turunannya. Apabila kita lihat kata berikutnya, biasanya kata sabar ini berdampingan dengan kata salat. Kata salat itu sendiri muncul 83 kali dan beserta turunannya maka terdapat 99 kali.

Seperti dalam Q.S Al-Baqarah ayat 153, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” 

Makna sabar adalah menahan dan bersifat terus meningkat intensitasnya. Maka dapat dikatakan bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya. Mungkin, batas suatu kesabaran adalah ketika seorang hamba menyerah. Ketika dia merasa beban yang dia tanggung sudah melebihi batas kemampuannya. Namun, pada hakikatnya Allah telah menjamin bahwa Dia tidak akan memberi beban melebihi batas yang kita mampu.

Level keimanan seseorang “diuji coba” melalui suatu ujian. Semakin lama seorang hamba bertahan dalam hal kebenaran dan keyakinan, maka selama itu pulalah level kita akan meningkat sesuai dengan kesabaran kita.

Ketika intensitas kesabaran kita berada pada puncaknya, maka kita harus bersiap siaga. Ketika ujian untuk kita semakin kuat, maka kesabaran kita juga seharusnya semakin kuat. Namun, kecenderungan manusia adalah semakin kuat suatu ujian maka manusia akan semakin putus asa. Sedangkan, orang yang berputus asa itu lebih mudah digoda oleh setan.

Ibadah puasa juga merupakan salah satu cara untuk melatih kesabaran. Dalam berpuasa hakikatnya kita sedang menahan. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan nafsu, amarah, ghibah, perbuatan munkar dan sebagainya. Jadi, jika kita salat dan puasa dengan benar, maka hasil akhirnya itu adalah kita menjadi lebih baik.

Dari berpuasa ini, timbul suatu sifat yakni Al-Insan yang artinya seseorang merasa yakin bahwa ada Allah Yang Maha Tahu, yang selalu mengawasi apapun yang dia lakukan. Dengan demikian, jika benar dalam melakukan ibadah puasa ataupun shalat, maka kita akan mampu bersabar dan mengalahkan hawa nafsu tersebut.

Seseorang yang masuk dalam sekolah kesabaran seperti berlatih kesabaran di bulan Ramadhan tentunya akan menjadi pemenang jika dia benar dalam kesabaranya. Dengan demikian, seharusnya seorang Mukmin yang bersabar dapat mengalahkan orang-orang yang bukan muslim dalam hal apapun (intelektual, fisik dan sebagainya).

Dapat dikatakan, salah satu akar dari permasalahan adalah level dan intensitas kesabaran kita masih terbatas dari orang-orang yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang menang.

Kesimpulannya, jika kita sentiasa bersabar dalam menghadapi apapun, maka intensitas dan level kesabaran kita akan meningkat. Dengan demikian, akan tumbuh rasa percaya diri dan kemandirian sehingga kita merasa tidak perlu bergantung kepada orang lain.[ed: Dh]

*disadur dari Khutbah Jumat oleh Prof. Dr. H. Bobi Eka Gunara bertopik “Intensitas Kesabaran”

 

*

*

Top