Antara Cita-Cita dan Tujuan Hidup*

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Seringkali kita mendengar sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Umar bin Khattab, yaitu

Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat, dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain akan memperoleh balasan dari apa yang diniatkannya itu.

Hadits ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya niat dalam setiap amal.

Pemahaman terhadap niat ini tidak terbatas pada pekerjaan yang dilakukan sesaat. Tetapi niat juga dipahami sebagai visi atau cita-cita untuk segala aktivitas.  Cita-cita atau visi inilah yang akan memandu seluruh kegiatan seseorang dan juga sebuah organisasi. Hal inilah yang kemudian dalam ilmu manajemen strategis bahwa penetapan visi ditempatkan pada posisi sentral dalam menetapkan strategi, program, dan aktivitas sebuah organisasi.

Dalam konteks penetapan visi ini, satu hal yang sangat penting adalah kita harus membedakan mana cita-cita dan mana yang bukan. Jangan sampai kita menganggap sesuatu sebagai cita-cita, padahal sebenarnya itu hanyalah alat untuk mencapai cita-cita atau tujuan kita.

Misalnya, apakah lulus dari perguruan tinggi merupakan cita-cita? Bila betul kelulusan adalah suatu cita-cita, maka cita-cita sudah tercapai begitu kita diwisuda. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Barangkali yang bisa kita lakukan adalah ijazah itu kita bingkai dan kita pasang pada dinding rumah kita.

Bila jabatan adalah cita-cita, berarti apabila kita selesai dilantik maka aktivitas sudah selesai. Pekerjaan yang tersisa adalah surat keputusan pengangkatan jabatan itu kita bingkai dengan pigura lalu dipasang di dinding rumah, sebagai bukti bahwa cita-cita sudah tercapai.

Demikian juga, bila kekayaan kita anggap sebagai suatu cita-cita, kemudian kita memiliki kekayaan tersebut, maka hidup kita juga “sudah berakhir”. Inilah mengapa, perlu ditegaskan bahwa gelar akademik, jabatan ataupun kekayaan bukanlah cita-cita, melainkan alat untuk mencapai cita-cita.

Lalu apa sebenarnya cita-cita yang harus kita tanamkan dalam hati dan pikiran yang kemudian kita perjuangkan untuk dicapai? Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 201:

Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Menjadi manusia yang selamat di dunia dan akhirat serta terhindar dari api neraka. Itulah cita-cita kita yang sebenarnya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mencapai cita-cita tersebut? Dengan ungkapan lain, “Apa misi yang kita emban sebagai manusia;?”

Allah SWT. berfirman dalam Q.S. Hud: 61, yang penggalan artinya adalah,

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…”

Tugas manusia di bumi adalah menjadikan dunia sebagai tempat yang makmur dan tempat tinggal yang nyaman. Dalam tugas ini, Allah bukannya tidak membekali manusia sama sekali. Allah telah menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan agar tugas tersebut dapat dijalankan dengan baik.

Allah SWT. berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan…” (Q.S. Al-A’raf:10).

Allah, Sang Penguasa Alam telah menundukkan alam dan segala isinya untuk kepentingan manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…” (Q.S. Lukman: 20).

Manusia, dengan izin Allah dapat membuat alat angkut seperti motor, pesawat terbang, alat komunikasi, dan berbagai kemampuan lainnya. Tetapi manusia tidak bisa membuat bahan-bahan untuk memproduksi alat angkut seperti besi, tembaga, logam, plastik dan sebagainya. Allah-lah yang menyiapkan seluruh alam ini termasuk udara, lautan, sungai, bumi dan semua bagian dari alam ini untuk manusia. Kemampuan berpikir untuk ilmu pengetahuan juga merupakan anugerah tersendiri dari-Nya.

Mari kita renungkan. Apakah kejeniusan yang dimiliki oleh ilmuwan terkenal seperti Einstein atau yang lainnya adalah hasil usaha mereka sendiri? Kalau ya, tentu semua bisa mengusahakannya, dalam kondisi apapun. Namun kenyataannya tidak.

Mengapa demikian? Untuk membentuk tata kehidupan manusia yang seimbang dan harmoni, Allah memberikan kemampuan yang berbeda-beda kepada masing-masing manusia. Manusia yang satu diberikan kemampuan yang lebih dari manusia yang lain, baik dalam hal harta benda, kesempatan, kelonggaran waktu, kemampuan berfikir dan laini sebagainya. Allah berfirman,

 “…Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain…” (Q.S. Az-Zukhruf: 32).

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki seseorang akan dibutuhkan oleh manusia lain. Kekurangannya juga akan dilengkapi oleh kelebihan orang lain. Setiap orang tidak akan bisa hidup sendiri, karena mereka pasti akan saling membutuhkan satu sama lain.

Jadi, kehidupan di dunia adalah sebuah sistem dari komponen-komponen yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Masing-masing komponen ini mempunyai karakteristik dan kemanfaatan yang berbeda. Dalam kelompok manusia, Allah telah membagi-bagi pengetahuan menjadi berbagai disiplin ilmu dan profesi yang berbeda.

Seluruh ciptaan Allah mempunyai fungsi dan kebergunaan masing-masing serta memiliki tingkat kesempurnaan yang berbeda. Maka, jalankan fungsi itu dengan baik sehingga seluruh komponen harus berorientasi kepada memberi, bukan menerima apalagi mengambil hak orang lain.

Binatang, tumbuhan dan alam semesta sudah berorientasi kepada memberi. Ketiga sistem itu sudah sesuai dengan sunnatullah. Lalu, apakah manusia juga sudah berorientasi kepada memberi? Atau justru menerima? Apakah manusia masih masih berorientasi pada kebutuhan sendiri atau terus berusaha untuk mengambil hak orang lain?

Apabila orientasi memberi ini diterapkan dalam kehidupan, maka manusia tidak akan mengukur dari apa yang mereka terima. Akan tetapi mereka akan mengukur keberhasilan hidup ini dengan apa yang mereka berikan. Artinya, kita tidak boleh mengukur keberhasilan dengan seberapa banyak kekayaan yang kita miliki. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan hidup ini dengan seberapa banyak gelar akademik yang berhasil kita kumpulkan. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan hidup ini dengan seberata tinggi jabatan yang berhasil kita raih. Tetapi kita harus mengukur keberhasilan hidup ini dengan seberapa banyak manfaat terbaik yang bisa kita berikan kepada sesama dan bangsa ini. Semakin banyak manfaat yang bisa kita berikan, maka semakin berhasil hidup ini.

*Khutbah Jumat Oleh Prof. Dr. Ir. Abdul Hakim Halim

*

*

Top