Menafsir Perang dalam Islam

(Ilustrasi: rizkicrcn.blogspot.com)

(Ilustrasi: rizkicrcn.blogspot.com)

Bicara soal sejarah Islam, salah satu hal yang terpikir adalah perang. Ada lima perang besar yang dilalui Rasulullah Saw., yakni Perang Badar, Perang Uhud, Perang Mu’tah, Perang Khandaq, dan Perang Tabuk. Peperangan-peperangan tersebut tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga materi yang tidak sedikit.

Lantas muncul pertanyaan. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, mengapa sejarah Islam harus diwarnai dengan peperangan? Allah Swt. sendiri mengisyaratkan syarat diadakannya sebuah pertempuran dalam surat Al-Hajj ayat 39-40. Bunyinya,

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…”

Merujuk pada ayat tersebut, maka jelas bahwa izin perang dapat diperoleh setelah umat Islam dianiaya oleh musuh. Di sisi lain, adanya izin tadi bukan berarti Muslim berhak berlaku sewenang-wenang. Pasalnya, tujuan perang dalam Islam bukanlah untuk menciptakan kerusakan. Perang dalam Islam justru menciptakan kehidupan, membangun peradaban, dan memberi kemakmuran.

“Perang bukanlah instrumen untuk menghancurkan, melainkan untuk menggulingkan dan membangkitkan,” terang Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Dr. Tiar Anwar Bachtiar, dalam Mabit Ashabul Quran, Jumat (1/4) lalu.

Kita pasti pernah mendengar soal aturan-aturan perang dalam Islam. Misalnya, dilarang membunuh biarawan di biara, serta tidak membunuh mereka yang tengah beribadah (musnad Ahmad Ibn Hanbal). Islam bahkan menjamin pemuka agama lain agar dapat menjalankan agamanya dengan tenang dan aman.

Selain itu, pasukan Muslim pun harus melindungi pihak tak berdosa lewat perjanjian. Dari kesepakatan bersama itulah, perang dapat dihentikan. Lebih jauh lagi, Muslim dapat membangun peradaban yang didasari oleh nilai-nilai Islam, yang bisa juga dilihat sebagai suatu bentuk dakwah.

Semakin jelaslah bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Pemahaman ini tentu berbeda dengan imaji yang ditanamkan musuh Islam; bahwa Muslim identik dengan haus kekuasaan dan cinta kekerasan. Inilah pentingnya mempelajari sejarah perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Dari sana akan tampak bahwa Rasulullah Saw. beserta umat terdahulu bukan berjuang demi harta, tahta, dan wanita, tetapi demi Allah Yang Maha Esa. Semoga nilai kebaikan ini dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.[ed: Dh]

*

*

Top