Oase Masyarakat Kota (3): Ibukota Tak Seindah Bayangan

(Foto: aktual.com)

(Foto: aktual.com)

Oleh: Sunarko Dardjono – Alumnus Aksara Salman ITB

Jakarta, kota di mana berjuta orang mencari rezeki. Kota dengan jumlah penduduk pendatang melebihi penduduk aslinya. Kota yang menjanjikan kesejahteraan bagi mereka yang merantau ke sana. Namun, kenyataan selalu tidak seindah mimpi-mimpi yang dijanjikan berbagai sinetron di layar kaca.

Hidup di Ibukota itu keras Bung, di sini kita dituntut untuk berjuang demi memenuhi kebutuhan dasar. Demi memenuhinya, seorang bapak dipaksa berangkat sebelum fajar untuk menghindari kemacetan yang seolah tiada akhirnya. Kemacetan yang sudah menjadi wajah Ibukota kita. Pagi hingga petang ia bekerja seharian membanting tulang untuk mengais rezeki bagi keluarga yang ditinggalkannya. Kemudian kembali mengarungi kemacetan jalan untuk pulang ke peraduannya di petang hari.

Jangankan mereka yang telah berkeluarga, bagi mereka yang masih sendiri pun harus mengalami skenario yang sama. Berangkat pagi, pulang petang. Kadang kala menyengaja pulang petang untuk menghindari kemacetan di sana. Tak tanggung-tanggung, kemacetan bisa terjadi berjam-jam dan telah lumrah adanya.

Kondisi tersebut merupakan salah satu cara Ibukota memaksa penduduknya menjadi pribadi yang egois. Mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Saling serobot kendaraan di jalan ataupun saling dorong ketika naik Trans Jakarta demi segera sampai ke rumah. Keegoisan tersebut pun tak ayal membuat penduduk Ibukota menjadi pribadi yang mudah tersulut emosinya.

Belum lagi persaingan yang ketat di Ibukota. Hal ini membuat penduduknya saling sikut kiri kanan untuk mendapatkan keinginannya tanpa peduli dia kawan atau lawan. Semua hubungan yang ada bersifat sementara dan diikat hanya karena kepentingan semata. Tak ubahnya dengan wajah politik di negeri kita ini.

Sebelum kita memutuskan untuk menjadikan Ibukota sebagai tempat berjuang, sangat dianjurkan untuk mempersiapkan mental kuat dan memiliki bekal agama yang baik. Sehingga, kita siap menghadapi kompleksitas kehidupan Ibukota dan tidak terpengaruh oleh nilai yang kurang baik di sana. Harapannya, kita juga mampu memberi pengaruh dan mengubahnya menjadi lebih baik. Jika tidak, maka jangan heran ketika kita mendapati diri menjadi bagian dari penduduk Ibukota yang egois dan tak peduli kepada sesama. Hanya menjadikan Ibukota sebagai tempat mencari materi, bukan sebagai tempat mengubah diri menjadi lebih baik dan menemukan makna hidup yang sedang dicari.***

Related posts

*

*

Top