Oase Masyarakat Kota (1): Introspeksi Diri, Solusi Stres Warga

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Kehidupan kota yang penuh dengan tekanan sosial berpengaruh pada meningkatkan risiko penyakit mental. Tercatat, jumlah kasus ganguan kecemasan di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Penyakit skizofrenia pun lebih berpeluang terjadi pada orang yang lahir dan besar di lingkungan perkotaan. Studi longitudinal menunjukkan bahwa efek dari lingkungan perkotaan pada gangguan kesehatan mental bersifat kausal, tetapi belum jelas bagaimana ia dapat memengaruhi fungsi otak.

Hal tersebut dibahas dalam jurnal berjudul Psychiatric Disorders: The Stress of City Life yang diterbitkan Nature Reviews Neuroscience tahun 2011 lalu. Jurnal tersebut memaparkan penelitian yang dilakukan kepada 32 orang yang menetap di daerah perkotaan dan juga pedesaan. Mereka dipantau dan dilakukan observasi mengenai masalah-masalah kehidupan mereka.

Hasilnya menyatakan bahwa masyarakat kota menghasilkan skor lebih tinggi ketika ditanya dan dianalisis tentang permasalahan mereka yang dapat menimbulkan stres dan kecemasan. Semakin ia tinggal di daerah perkotaan, maka aktifitas perigenual anterior cingulate cortex (pACC) atau bagian otak yang mengatur tingkat stres mengalami peningkatan yang signifikan.

Prof. Sawitri Supardi Sadarjoen mengatakan masyarakat perkotaan memang lebih rentan stres jika dibandingkan masyarakat perdesaan. Menurutnya, masyarakat perkotaan mempunyai tuntutan kehidupan dan tingkat persaingan yang tinggi. Hal tersebut membuat tuntutan individual mereka lebih tinggi dibandingkan masyarakat desa.

“Orientasi masyakat kota ke arah kehidupan duniawinya yang intens. Kalau masyarakat desa itu sekadar guyub, sekadar kebersamaan, sekadar persaudaraan, karena itu sudah membuat mereka bahagia,” ujar Sawitri saat diwawancarai pada kediamannya di Jalan Gunung Rahayu Bandung, Selasa (26/1).

Pada kota besar seperti Bandung, keberagaman penduduk juga menyebabkan sering terjadinya benturan-benturan multikultur. Tingkat toleransi orang terhadap perubahan kondisi sosial-ekonomi, sosial-religi, maupun sosial-kultural pun menjadi lebih bervariasi. Hal tersebut, menurut Sawitri, membuat masyarakat Bandung akhirnyasemakin lama menjadi masyarakat yang semakin dinamis. Namun, di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan fasilitas sosial karena jumlah penduduk yang juga semakin banyak. Hal tersebut dapat menjadi pemicu stres pada masyarakat Bandung.

 

Instropeksi Diri

Ahli psikologi klinis yang juga guru besar Universitas Padjajaran ini melanjutkan, masyarakat perkotaan rentan mengalami gangguan keseimbangan fungsi mental. Hal ini disebabkan karena apa yang harusnya diatasi oleh indiviidu untuk bisa survive menjadi lebih banyak dan lebih bervariasi. Orang-orang pun mengalami ketegangan emosi berlanjut, baik ketika menghadapi persaingan, perubahan perilaku sosial dan spiritual, hingga tuntutan sosial ekonomi yang semakin tinggi.

“Mereka pun ada yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebutuhannya dan tidak berpikir panjang. Seolah tak peduli lagi halal-haram asalkan kebutuhannya tercapai,” tuturnya.

Salah satu ciri orang yang terkena ganguan keseimbangan fungsi mental adalah bersikap egois dan tak mau mengalah. Misalnya, ketika mereka berkendaraan di jalanan mereka semena-mena, bisa berupa kebut-kebutan ataupun melintas di jalur trotoar.

Sawitri menjelaskan untuk menyembuhkan ganguan tersebut, seseorang mesti menyisihkan waktu buat intropeksi diri. Menilai diri apakah ia telah berlaku baik sebagai anggota masyakat maupun kelompok masyarakat di mana ia berada. Setelah itu, harapannya ia menyadari apa yang mesti dilakukannya untuk menjaga lingkungan tersebut tetap nyaman untuk setiap individu.

“Dalam intropeksi itu terkandung perencanaan kita untuk berbuat lebih baik daripada apa yang kita perbuat kemarin. Apalagi bagi yang menjalankan rutinitas perilaku beragama, tentunya dengan sendirinya akan menjadi pribadi lebih baik,” papar Sawitri.

Hidup di perkotaan memang dipenuhi dengan berbagai hal yang dapat menyebabkan seseorang stres. Namun, hal yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi stres tersebut. Apakah mau menurutinya atau mengintropeksinya agar tak menjadi hal yang merugikan diri maupun orang lain. Jadi, sesekali marilah kita coba menyisihkan waktu untuk sekadar merenung, berekreasi, atau beribadah agar menyegarkan kembali diri dan tak gampang terkena stres.***

Related posts

*

*

Top