Oase Masyarakat Kota (2): Stres? Berserah Dirilah

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Ada yang menarik dari konsep “hoki”-nya para pebisnis keturunan Tionghoa. Hoki, mereka lihat sebagai bentuk kekuatan di luar diri, yang juga memiliki kuasa penuh atas keberhasilan usahanya. Sedang rugi? Ya, sedang tidak hoki. Kepercayaan ini lantas memahamkan mereka, bahwa ada hal-hal dalam bisnis –bahkan hidup—yang tidak bisa sepenuhnya mereka kontrol. Hidup pun terasa lebih tenang dan tenteram.

Kepongahan manusia yang kerap menganggap dirinya mampu mengendalikan segala hal dalam hidupnya, ternyata menjadi salah satu penyebab utama stres. Padahal itu jelas di luar kemampuan manusia yang serba terbatas. Hal ini marak terjadi pada masyarakat di kota-kota besar. Gejala-gejala seperti gangguan tidur, gangguan lambung, hingga mudah marah dan depresi seolah wajar terjadi.

Menurut Psikolog sekaligus Konsultas Pendidikan dan SDM Adriano Rusfi, inilah yang mendasari pentingnya aspek spiritualitas dalam mengurangi stres. “Stres artinya kan tegangan, lawan dari stres itu relaksasi. Relaksasi bisa dicapai dengan banyak hal, di antaranya dengan upaya spiritual,” tuturnya, Selasa (9/2).

Hal itu senada dengan firman Allah dalam surat Ar-Rad ayat 28 yang berbunyi, “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Adriano menjelaskan, ini pun berhubungan dengan konsep tawakkal yang berarti “mewakilkan”.

“Orang yang menganggap semua hal bisa dikontrol, dia bisa stres,” katanya. “Kalau manusia mampu bertawakkal, menyerahkan hasil akhir pada Allah, dia bisa tenang.”

Selain berserah diri kepada Allah, cara lain untuk mengurangi stres yakni dengan melakukan interaksi sosial. Selesaikanlah masalah dengan berjemaah, karena ada masalah-masalah yang sejatinya tidak dapat diselesaikan sendiri. “Tidak ada Superman, adanya superteam,” lanjut pria yang aktif mengisi seminar dan ceramah di berbagai tempat ini.

Upaya macam itu sesungguhnya bisa diterapkan di masjid. Masjid seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai institusi sosial, tapi juga institusi komunitas. Institusi komunitas di sini berarti wadah komunitas yang terikat oleh ikatan teritori atau kedaerahan. Masjid yang mengetahui kebutuhan dan potensi komunitas di sekitarnya, dapat mengaktualisasikan diri sebagai sarana pelepas stres dan sumber pemecah masalah.

“Masyarakat udah stres, ceramahnya juga tentang stres. Konspirasi Yahudi, lah, teroris, lah,” kritik Adriano. Baginya, masjid yang dapat berfungsi sebagai tempat pelepas stres harus menerapkan prinsip tension release di seluruh aspek operasionalisasinya. Misalnya struktur organisasi pengurus masjid, yang baiknya dikelola oleh orang-orang yang ramah.

“Makanya Salman harus jadi Rumah Ruhani dulu. Baru Laboratorium Ruhani, dan Sanggar Ruhani,” katanya.

Di tengah frustasi yang terus melanda, alangkah sejuknya bila kita menyempatkan bersantai sejenak di masjid. Bersujud pada Yang Maha Kuasa, meluruhkan beban dalam diri, untuk kemudian bangkit kembali menjalani hari –ikhlas diniatkan hanya untuk-Nya. Melegakan juga saat bertemu dan berbagi kasih dengan sesama Muslim, yang sama-sama berjuang menghadapi segala ujian hidupnya. Maka, yuk, datangi masjid di sekitar kita. Datangi, hidupi, ganjalan pun Insya Allah terbagi. ***

Related posts

*

*

Top