(Masih) Ada Cahaya dalam Pelangi (3): Merah, Kuning, Hijau, di Langit Kelabu

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Oleh: Sholah Ayub – Desainer Salman Media

Pernah mendengar penggalan lirik seperti judul di atas? Beberapa dari Anda yang membacanya dengan salah satu nada lagu anak yang familiar, pasti mengenalnya. Ialah lagu anak yang kerap dilantunkan ketika pelangi muncul dikala hujan reda. Sayangnya lagu ekspresi keindahan alam tersebut mungkin terancam tidak bisa bebas terlantun lagi sekarang.

Kenapa? Karena dahulu teknologi hanya digunakan oleh kalangan kerajaan sampai disebut sihir oleh rakyatnya sendiri, lalu sekarang pelayan pun sudah mempunyai papan ajaib bergambar yang bisa berubah-ubah. Karena dahulu komputer hanya digunakan oleh militer, lalu sekarang anak kecil pun bisa bermain perang-perangan disana. Karena dahulu manusia di seluruh dunia pergi ke bayt al-hikmah di Baghdad untuk mencari Ilmu, sekarang “Syekh Google siap memberi “ilmu” kepada umat manusia.

Lalu apa perbuatan manusia selanjutnya yang akan menggemparkan dunia lagi? Ialah kebablasan berpendapat, nyawa dari era post-modern ini. Selamat datang di dunia baru, di mana kamu bisa bebas menjadi gay, lesbi, biseksual, transgender, atheis, paganis, sampai satanis. Kamu juga bisa melakukan apa yang pernah dilarang oleh agamamu, karena otak manusia maju sekarang berkata “akulah tuhan kamu yang tertinggi, peraturan agama tidak relevan sekarang, percayalah padaku. Aku sudah bisa melakukan hal-hal hebat sebelumnya, mari buat yang lain. Lakukanlah seks bebas, dan bersenang-senanglah karena otak tidak menciptakan surga dan neraka untukmu”.

Perkembangan zaman, kawan, seakan-akan sekarang apapun bisa terjadi. Pemikiran dan oplosan-oplosannya bertebaran di mana-mana. Dunia terasa ada di genggaman kita, menciptakan arogansi bahwa pemikiran manusia lebih baik daripada kalam Tuhan.

Lalu apa hubungannya dengan lagu pelangi yang menjadi bahasan awal tulisan ini? Sudah jelas, salah satu produk post-mo, yaitu LGBT, mem-branding pelangi, salah satu hal terindah yang ada di dunia menjadi sesuatu yang menjijkan. Penggunaan visual pelangi sekarang seakan-akan dibatasi.

Para pecinta fenomena indah ini patut bersedih. Betapa teganya memperburuk citra ikon paling berpengaruh diseluruh dunia ini, padahal pelangi tidak pernah menyakiti LGBT. Padahal LGBT berlandaskan penghargaan terhadap pendapat orang lain, tapi malah menyinggung mayoritas manusia untuk kepentingan pribadi. Betapa malang nasib pelangi, apakah ia akan terus bersinar di langit kelabu?***

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Related posts

*

*

Top