(Masih) Ada Cahaya dalam Pelangi (1): Menerima untuk Kembali Pada Fitrah

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

“Kaum Pelangi”, itulah sebutan kekinian yang sering disematkan kepada mereka yang memiliki kecenderungan orientasi seksual yang berbeda dengan masyarakat umum. Maraknya isu yang mengangkat pengakuan terhadap kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tersebut akhir-akhir ini kerap menjadi perbincangan. Tak jarang, pergerakan mereka dianggap meresahkan masyarakat karena dinilai dapat merusak tatanan sosial dan moral di masyarakat. Namun, terlepas dari isu LGBT yang bersifat “politis” tersebut, kita tak dapat menutup mata bahwa memang terdapat orang-orang yang memiliki kecenderungan orientasi seksual yang “tak biasa”.

Dalam dunia psikologi, mereka yang memiliki kecenderungan orientasi seksual ini telah dikenal lama, salah satunya lewat istilah homoseksual atau penyuka sesama jenis. Prof. Sawitri Supardi Sadarjoen mengatakan bahwa penyebab seseorang bisa memiliki kecenderungan tersebut bisa bermacam-macam. Penyebabnya bisa dari faktor genetik, lingkungan, hingga tren perilaku sosial.

“Penyebabnya bisa karena perkembangan biopsikologi-nya tidak sesuai dengan perkembangan fisiknya atau adanya ‘gangguan identitas seksual’. Misalnya yang seharusnya karakter fisiknya itu laki-laki, tetapi secara psikis ia menempatkan dirinya sebagai perempuan,” jelas Sawitri ketika ditemui pada kediamannya di Jalan Gunung Rahayu Bandung, Selasa (26/1).

Berdasarkan kasus yang pernah ditanganinya, seorang yang memiliki kecenderungan tersebut, umumnya memiliki anggota keluarga yang mempunyai kecenderungan yang sama. Apakah itu pamannya, atau anggota keluarga lainnya yang masih mempunyai hubungan darah.

Hal ini berbeda dengan mereka yang disebabkan oleh lingkungan dan tren perilaku. Menurut psikolog yang mengajar di Universitas Padjajaran tersebut, di beberapa kasus terdapat kejenuhan pada diri seseorang dalam peranannya berdasarkan karakter seksual fisiknya. Misalnya, di masyarakat Barat yang tradisi seksual terlalu permisif. Mereka yang sudah mengenal hubungan seks heteroseksual sedari muda, bisa jadi merasa bosan dan mencoba hubungan dengan “cara lain” untuk kesenangan.

Sawitri mengakatan, dalam menyikapi orang-orang yang memiliki penyebab kecenderungan yang berbeda tersebut, kita harus bijak dalam bersikap. Kalau penyebabnya karena hal bersifat genetis dan mereka juga tidak menginginkan, sepatutnya kita menerimanya.

“Kita terima mereka terkait pengakuan sosial. Karena dalam pergaulan sosial biasa, mereka tidak masalah. Tidak selalu orang gay itu patologis,” ujar Sawitri.

Tak jauh berbeda dengan Sawitri, Adriano Rusfi juga menegaskan kalau kita harus mampu membedakan posisi kaum LBGT agar dapat bijak dalam bersikap. Psikolog yang juga anggota Dewan Pakar Masjid Salman ITB menyapaikan bahwa kita harus mampu membedakan LGBT tersebut dari sisi orang, perilaku, dan gerakan.

Dari sisi pelaku LGBT perorangan, kita harus tetap mengutamakan kasih-sayang, berempati, dan merangkulnya. “Sikap kita seperti sikap dakwah. Kita coba untuk memahamkan, menyadarkan, meluruskan, termasuk membantu menterapi orangnya,” paparnya saat diwawancarai via telepon, Selasa (2/2).

Lalu, dari sisi perilaku, kita harus tegas mengatakan bahwa perilaku dan gaya hidup homoseksual tersebut adalah perbuatan yang keji yang telah disampaikan dalam Alquran. Begitu pula dari sisi pergerakan LGBT yang umumnya bersifat sistematis, masif, dan penetratif, kita harus memberikan perlawanan untuk menentangnya. Hal ini disebabkan gerakan LGBT tersebut, menurut Adriano, akan menularkan “penyakit” gaya hidup yang menyimpang. Ia juga menyampaikan, sasaran utama pergerakan tersebut menyasar mahasiswa karena merupakan generasi “galau” identitas dengan kebebasan hidup yang tinggi.

Muslim “Kaum Pelangi”

Terkait seorang muslim yang ternyata memiliki kecenderungan pada sesama jenis, Adriano mengatakan hal tersebut sangat memungkinkan terjadi. Secara naluri, manusia akan dihadapkan pada jalan dosa dan takwa (fa alhamaha fujuraha wa taqwaha). “Jadi, setiap orang mempunyai potensi untuk menyimpang,” tuturnya.

Selain itu, manusia juga mempunyai nafsu. Jika telah terbawa nafsu, walaupun seorang muslim, maka ia akan meniadakan akal sehatnya. Kemudian terdapat juga faktor lingkungan yang dapat membuat orientasi seksualnya tidak jelas, terutama bagi mereka yang masih remaja. “Mereka sudah baligh tapi belum aqil,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan agar jangan berputus asa dari rahmat Allah. Yakinilah bahwa harapan untuk kembali kepada fitrah seharusnya selalu ada dan Allah akan memberikannya kepada mereka yang berusaha untuk berubah. Lalu, bagi pihak muslim lainnya, kita harus membantu proses penyadaran bahwa kecenderungan tersebut memang keliru.

“Kita dapat menjadi media dan wadah untuk mereka curhat. Masjid seperti Salman pun bisa sebagai sarana konseling ataupun terapi bagi mereka yang LGBT sebagai salah satu bentuk layanannya terhadap jemaah,” pungkas lelaki yang disapa Bang Aad ini.

Setiap manusia telah diberi fitrah oleh Allah Swt apakah ia akan menjadi laki-laki ataupun perempuan. Kecenderungan orientasi seksual sebagai “Kaum Pelangi” hanyalah salah satu ujian yang dihadapi untuk menuju fitrah tersebut. Seperti pelangi yang berasal dari cahaya putih, mereka pun memiliki fitrah awal yang seharusnya dikembalikan. Wallahu alam.***

Related posts

*

*

Top