(Masih) Ada Cahaya dalam Pelangi (2): LGBT Bukan Takdir

(Ilustrasi: pixabay.com)

(Ilustrasi: pixabay.com)

Apa yang akan Anda lakukan saat orang terdekat Anda mengakui ketertarikannya pada sesama jenis? Meledek? Menasihati panjang-lebar? Atau menjauh?

Sebenarnya Same Sex Attraction (SSA) atau orientasi seksual pada sesama jenis itu bukan penyakit. Alih-alih dipandang sebagai penyakit, SSA justru dilihat sebagai anugerah dari Allah SWT; pemberian berupa ujian keburukan yang mestinya disikapi dengan kesabaran. Pemiliknya, dapat tetap berusaha beribadah di jalan Allah dengan menikah dengan lawan jenis dan memiliki anak.

SSA sendiri berbeda dengan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), yang merupakan identitas sosial, semacam penerimaan diri, pencitraan, identitas formal, atau aktualisasi diri yang hadir sebagai lawan identitas heteroseksual. Kaum LGBT juga beranggapan bahwa SSA adalah anugerah kebaikan yang harus disyukuri dengan jalan menyalurkannya pada sesama jenis, kalau perlu memperjuangkan hak menikah secara legal. Hal ini diutarakan oleh Pendiri Komunitas Peduli Sahabat Agung Sugiarto, Selasa (2/2).

Pendiri komunitas yang bergerak di bidang pendampingan orang dengan SSA ini menjelaskan, ketertarikan seksual seseorang bisa disamakan dengan ‘niat’. Setiap orang pasti memiliki niat baik maupun buruk dalam dirinya. Jika niat baik dijalankan, akan diberi dua pahala. Sedangkan jika niat buruk tidak dilakukan, akan mendapat satu pahala dan jika tetap dikerjakan akan berdosa.

“Orientasi seks sesama jenis dihukumi sebagai ‘niat buruk’ dalam Islam karena jelas tindakan seks sesama jenis dilarang,” katanya lewat pesan whatsapp. “Anda yang mempunyai SSA kalau sabar dan ditahan akan berpahala terus-menerus.”

Ujian tadi pun sebenarnya tak hanya dirasakan oleh pemilik SSA, namun juga orang-orang terkasihnya. Bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan bahwa sosok yang disayangi ‘berbeda’ dengan orang kebanyakan. Bila teman mengaku bahwa ia SSA, Sinyo menerangkan, sebaiknya dalami dulu apa yang ia mau. “Kadang orang SSA butuh teman curhat agar dia terkurangi beban hidupnya, kalau sudah didalami dan tahu apa keinginan yang utama maka arahkan ke jalan Allah,” ujarnya.

Itulah yang menjadi dasar proses pendampingan di Yayasan Peduli Sahabat. Dalam Yayasan yang telah memiliki peer group di Facebook dengan anggota lebih dari empat ribu orang itu, pemilik SSA akan didampingi untuk hidup di jalan agama dan adat setempat. Tujuannya, agar mereka bisa hidup dengan identitas heteroseksual dan nyaman dalam menjalani agamanya.

Di sisi lain, Sinyo menolak membahas apakah Peduli Sahabat adalah pihak yang pro atau kontra LGBT. Ia mengatakan, hal tersebut bisa dilihat dari Undang-Undang dan agama. Alih-alih memilih pro atau kontra, pihaknya hanya fokus dalam membantu pemilik SSA untuk menjalani agamanya dengan baik.***

Related posts

*

*

Top