Mandiri Pangan, Bukan Angan-Angan (3): Subsidi untuk Kedaulatan Pangan Nasional

Cover(1)

Oleh: Ferdi Fathurohman – Dosen Agroindustri Politeknik Negeri Subang

Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya khusus agar produksi beras nasional kembali tinggi. Tidak hanya menghentikan impor beras, membangun bendungan ataupun membenahi irigasi, tetapi juga memberi benih, pupuk, dan alat mesin pertanian. Bahkan, TNI AD kerap dilibatkan untuk memberi penyuluhan kepada petani sekaligus mengawasi penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi.

Terkait produksi padi, pemerintah menyalurkan benih kepada masyarakat tani berupa padi varietas IPB 3S. Varietas mampu memberi potensi panen sampai 14 ton/ha saat diujikan di wilayah Karawang. Ini akan menjadi peningkatan produksi yang sangat luar biasa.

Di sisi lain, perolehan produktivitas tersebut ternyata tidaklah cukup untuk menyejahterakan petani. Bagi mereka, yang paling penting saat ini adalah adanya kejelasan harga jual yang stabil. Banyak petani mengeluhkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Subsidi yang dilakukan pemerintah dengan memberikan subsidi pupuk, bantuan alat pengolahan sampai dengan pendampingan, dirasakan kurang berarti bagi petani. Terutama, ketika hasil panen yang bagus tidak diimbangi harga jual yang bagus pula. Sejauh ini, pemerintah hanya berfokus pada subsidi input sementara output belum begitu diperhatikan dan lebih cenderung diserahkan ke pasar.

Petani dengan sendirinya akan lebih meningkatkan produktivitasnya ketika harga jual sudah stabil dan jelas. Bahkan, apabila disuruh memilih, petani lebih cenderung memilih subsidi output dibandingkan subsidi input yang saat ini diterapkan pemerintah.

Subsidi output tidaklah harus dilakukan secara turun tangan langsung, pemerintah bisa bekerja sama dengan BUMN maupun BUMD untuk membeli hasil petani. Dengan adanya sistem ini, bukan hanya petani yang diuntungkan namun perusahaan juga. Begitu pula konsumen yang terkena imbas keuntungannya karena harga yang menjadi stabil. Dengan adanya sistem ini, rantai pasar produk pertanian akan pendek sehingga penambahan biaya akibat rantai panjang tidak akan terjadi.

Peran serta seluruh stake holder sangat diharapkan untuk pencapaian tersebut. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah selaku pengatur regulasi pertanian harus mulai dan terus melakukan dukungan kepada para petani, baik dari segi pengetahuan maupun penerapan teknologi. Tanpa adanya dukungan, semua ini akan menjadi gerakan-gerakan kecil yang tidak menyeluruh. Selain itu, harus disadari pula bahwa gerakan bersama untuk membangun pertanian ini perlu dilakukan saat ini juga untuk hasil yang optimal.

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Related posts

*

*

Top