Halal, Investasi Dunia Akhirat (3): Halal sebagai Tren Hidup

(Ilustrasi: japantimes.co.jp)

(Ilustrasi: japantimes.co.jp)

Oleh: Aulia Eka Fitriani – Manajer Eksekutif Pusat Halal Salman ITB

Sejak beberapa tahun belakangan, bahasan “halal” sudah tidak menjadi bahasan para muslim saja. Menurut data yang diambil dari Global Halal Data Pool, besarnya industri halal secara global telah mencapai USD 2.3 triliun. Bahkan, angka tersebut belum termasuk nilai pendapatan dari perbankan syariah. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 20%, industri halal dapat bernilai hingga USD 560 juta setiap tahunnya. Hal tersebut membuat industri halal menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan segmen konsumen terbesar di dunia.

Untuk segmentasi konsumen sendiri, para konsumen nonmuslim juga banyak yang lebih memilih untuk menggunakan produk yang bersertifikasi halal. Setelah mengetahui ketatnya proses pemeriksaan halal, mereka percaya bahwa makanan yang halal akan lebih memenuhi aspek kesehatan (thayyib) dan higienis dibandingkan produk yang belum jelas proses produksinya.

Produk yang menjadi pengisi pasar halal pun sekarang sudah tidak hanya seputar makanan dan minuman saja, namun telah meluas ke industri obat, vaksin, kosmetik, fashion, hingga industri pariwisata seperti hotel dan travel. Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia. Bahkan, di Jepang, Korea, Thailand, hingga Singapura yang memiliki penduduk heterogen, teknologi pemeriksa halalnya sudah canggih dan akurat.

Namun, fenomena sebaliknya justru mulai muncul di Indonesia. Mayoritas penduduk muslim di Indonesia malah membuat masyarakatnya menjadi terlanjur merasa nyaman dalam mengonsumsi produk makanan. Hal tersebut mengurangi kewaspadaan dalam memilih makanan. Di kota-kota besar di Indonesia, masih mudah dijumpai restoran-restoran nonhalal, baik yang ditulis secara terang-terangan maupun menggunakan istilah-istilah lain. Diperparah lagi dengan beredarnya kabar di beberapa kota besar, seperti kasus pengusaha makanan olahan sapi yang mengganti dagingnya dengan daging babi hutan. Alasannya, karena harganya yang lebih murah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa belum banyak masyarakat Indonesia yang teredukasi mengenai pentingnya menyediakan produk yang halal. Terutama, kesadaran dari masing-masing muslim bahwa memastikan kehalalan produk sebelum dikonsumsi adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan.

Aspek kognitif lain yang harus diketahui masyarakat Indonesia dalam penerapan gaya hidup halal adalah proses pengadaan produk halal harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Kebutuhan tersebut salah satunya harus dipenuhi pada sistem suplai dan rantai pasok halal. Misalnya, pengadaan peternakan dan rumah potong hewan yang dijamin halal pada hulu sistem, sistem logistik halal, dan pelabuhan halal pada bagian hilir, dan seterusnya.

Kehalalan yang akan diperiksa pada system tersebut tidak hanya menyangkut bahan baku, namun juga bahan tambahan, teknik pemrosesan, pengepakan, logistik, penyimpanan, kemasan dan penyajian. Jika masyarakat sudah teredukasi dan peduli akan pentingnya kehalalan, insya Allah Indonesia akan menjadi role model dunia dalam penerapan gaya hidup halal.***

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Related posts

*

*

Top