Halal, Investasi Dunia Akhirat (1): Halal, Kebutuhan yang Jadi Peluang

 

(Foto: wittebv.com)

(Foto: wittebv.com)

Kebutuhan produk halal tak hanya bagi masyarakat muslim, tetapi kebutuhan masyarakat nonmuslim juga. Jika suatu produk halal, berarti produk tersebut aman dikonsumsi, sehat dan tidak mengandung sumber-sumber penyakit di dalamnya. Hal ini kemudian menyebabkan berbagai produk dan identitas tempat perdagangan di luar negeri semakin banyak mencantumkan label halal. Label halal tersebut pun kini telah menjadi keunggulan dan value added yang ditawarkan kepada konsumen. Di Belanda misalnya, telah berdiri pelabuhan halal di Kota Roterdam.

Itulah yang disampaikan ekonom Acuviarta Kartabi kepada Salman Media terkait peluang bisnis halal pada era sekarang, Selasa (15/12), via email. Menurut Acuviarta, potensi bisnis tersebut tidak terbatas dan kapitalisasi pasarnya akan terus meningkat. “Bayangkan potensi pasar atau market size konsumen produk halal di Indonesia, sangat besar sejalan dengan tingginya jumlah penduduk yang ada,” ujarnya.

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung akhir tahun ini, potensi bisnis halal tersebut pun mulai digarap. Bahkan, negara yang mayoritas bukan muslim, seperti Singapura dan Thailand sudah memulai menggarap pusat produk halal di negaranya. “Negara-negara tersebut paham betul, bahwa menjual produk makanan bagi konsumen turis dari negara-negara muslim harus identik dengan produk halal,” ujar dosen Universitas Pasundan (Unpas) Bandung ini.

Menurutnya, Indonesia semestinya menyadari bahwa menjual produk halal adalah kebutuhan dan kewajiban. Harus muncul paradigma ke depan bahwa sebagian besar produk makanan, bahan makanan, dan jasa tertentu di Indonesia sudah pasti kehalalannya. Apalagi sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

 

Peran Kampus dan Ilmuwan

Meningkatnya barang impor dan selundupan dengan spesifikasi tidak jelas sangat merugikan konsumen yang mayoritas muslim. Peredaran produk-produk tersebut harus dibendung dengan menciptakan produk-produk sejenis dengan spesifikasi halal. Ini berarti barang-barang yang diproduksi di dalam negeri akan lebih jelas spesifikasinya dan terlacak asal-usulnya. Untuk mengembangkan paradigma tersebut, diperlukan dukungan dan kesadaran para ilmuwan.

“Peran kampus dan ilmuwan dalam mengembangkan produk halal menjadi syarat mutlak berkembangnya pasar produk halal di Indonesia,” tutur Acuviatra.

Menurutnya, pihak kampus dan para ilmuwannya perlu menyadari barometer utama dari kebutuhan pengembangan produk halal didasari pertimbangan rasional bahwa dampak kehalalan akan sangat luas. Semua dampaknya pun bersifat positif, tidak ada yang negatif. Halal bukan hanya dari bahan baku, tetapi juga sumber modal membangun investasinya. Semua tertata harmonis dan membawa kemaslahatan ekonomi yang luar biasa.

“Produk halal yang lahir dari kampus dihasilkan melalui serangkaian proses penelitian yang terkondisikan dari sisi tahapan proses hingga kualitas. Hal ini menyebabkan produknya akan lebih terjamin dan bermutu,” jelasnya.***

Related posts

*

*

Top