Berhutang Membawa Petaka*

(Ilustrasi: flickr.com)

(Ilustrasi: flickr.com)

Oleh: Marchiana A.H.

Dewasa ini berhutang nampak menjadi gaya hidup yang lumrah. Kredit dan pinjam uang ke sana-sini bahkan kerap dijadikan solusi untuk memenuhi hasrat berbelanja. Maklum, masyarakat dibombardir “tuntutan” untuk senantiasa tampil up to date dengan segala atribut yang melekat pada dirinya.

Mari kita simak kisah si Fulan, seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab menafkahi istri dan ketiga anaknya. Penghasilannya berjumlah di atas 6 juta Rupiah. Sayang, tanggal sepuluh belum lagi berlalu, namun dompet telah kempis. Biaya sekolah anak, bahan makanan untuk dimasak, juga ongkos kerja pun jadi sulit dipenuhi. Akhirnya Fulan terpaksa meminjam uang ke sanak saudara dan tetangga.

Masalah ini sering kali terulang setiap bulannya. Fulan dan istri kebingungan; rasanya mereka hidup biasa-biasa saja, kok bisa selalu merasa kurang?

Masih banyak Fulan-Fulan lain –mewakili kelas menengah Indonesia—yang mengalami kisah serupa. Banyak yang menduga, fenomena ini terjadi akibat sorotan media terhadap gaya hidup mewah yang terlalu berlebihan. Sebut saja sinetron, FTV, atau acara-acara televisi lain yang sering membesar-besarkan nikmatnya memiliki rezeki berlebih. Tak ketinggalan majalah, radio, apa lagi media sosial.

Karena hasrat ingin memiliki gadget teranyar, kendaraan mewah, pakaian bagus, atau makan di tempat bergengsi, uang hasil kerja keras jadi kurang berarti. Bahkan sering kali, untuk memenuhi hasrat tersebut, banyak yang tak ragu mengajukan kredit. Segala macam barang dibeli, meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Mungkin bagi yang berkecukupan hal seperti ini wajar-wajar saja. Namun celakalah yang berpenghasilan pas-pasan.

“Penyakit” senang berhutang masyarakat Indonesia nampak sulit untuk dihilangkan. Dalam Islam sendiri, bagaimana hukumnya?

Hukum hutang-piutang sebenarnya dibolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan merupakan hal yang disukai dan dianjurkan. Dalil hukum tersebut ada dalam surat Al-Baqarah ayat 245 yang berbunyi: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Namun meski boleh, Rasulullah menyuruh umatnya untuk menghindari hutang. Rasul pernah bersabda, “Berhati-hatilah kamu dalam berhutang, sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkan kehinaan di siang hari.” (HR. Al-Baihaqi)

Hutang pun berpengaruh buruk pada akhlak, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasul; “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka Rasulullah dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memngkiri.” (HR. Bukhari)

Hal paling mengerikan, saat seseorang terlanjur meninggal dalam keadaan berhutang. Dikisahkan, Rasulullah menolak mensalatkan jenazah orang tersebut, yang diketahui tak meninggalkan harta apa pun demi melunasi hutangnya. Rasulullah bersabda; “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya,” (HR. Muslim)

Kisah-kisah di atas menunjukkan betapa pentingnya menghindari hutang. Alangkah lebih baik jika kita menahan diri, apa lagi jika keinginan berhutang didorong alasan yang tidak syar’i. Kita bisa mengambil contoh dari Umar bin Khattab RA. Suatu hari, anaknya pulang dari menuntut ilmu sambil meghitung tambalan-tambalan di bajunya yang telah usang. Karena kasihan, sang Amirul Mukminin mengirim surat pada bendaharawan negara untuk meminjam uang sebanyak 4 dirham. Hutang itu akan ia bayar dengan potongan gajinya bulan depan.

Kemudian sang bendaharawan membalas suratnya, yang berisi; “Wahai Umar, adakah engkau dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu?”

Usai membaca balasan itu, seketika Umar tersungkur sambil menangis. Ia pun menasihati anaknya, “Wahai anakku, berangkatlah menuntut ilmu dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya karena aku tidak dapat memperhatikan umurku walaupun hanya satu jam. Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata.”[ed: Dh]

*Disadur dari artikel “Berpikirlah Seribu Kali untuk Berhutang” yang dimuat di hidayatullah.com, dan “Keutamaan dan Bahaya Hutan-Piutang Menurut Pandangan Islam” yang dimuat di ibnuabbaskendari.wordpress.com

Top