Takbir Berjemaah di Malam Hari Raya Bolehkah?

malam takbiran antaranews.com foto

Suasana takbiran berjemaah keliling di malam hari raya. (Sumber gambar: antaranews.com)

Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunah Nabi Muhammad saw. yang amat perlu untuk dilestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syiar Islam. Para ulama dari masa ke masa sudah biasa mengajak umat untuk melakukan takbir, baik setelah salat (takbir muqoyyad) atau di luar salat (takbir mursal). Termasuk takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa. Ini adalah yang biasa dilakukan ulama dan umat dari masa ke masa.

Itulah yang disampaikan Buya Yahya dalam laman buyayahya.org saat memberi pandangan tentang takbir berjemaah pada malam hari raya. Pimpinan Ponpes Al-Bahjah Cirebon ini menyayangkan adanya sekelompok kecil umat yang begitu berani mencaci dan mem-bid’ah-kan takbir bersama-sama ini. “Sungguh pem-bid’ah-an ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu),” ujarnya.

Menurut Buya Yahya, terdapat riwayat-riwayat sahih yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama ini. Di antaranya adalah hadis-hadis berikut.

“Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadis pun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan di belakang para manusia (kaum pria). Kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria) dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”. (H.R. Bukhari)

Di sebutkan dalam hadis, para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Menurut Buya Yahya, itu menunjukan  takbir  terjadi secara berjemaah atau bersamaan. Bahkan, dalam riwayat Imam Muslim, redaksinya adalah “para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”.

“Sahabat Umar bertakbir di kubahnya yang berada di tanah Mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir. Begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah Mina bergema dengan suara takbir”. (H.R. Bukhari).

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) ada isyarat takbir tersebut bergoncang, bergerak, dan bergetar  yaitu menunjukan kuatnya  suara yang  bersama-sama.

Buya Yahya juga mengutip perkataan Imam Syafi’i r.a. dalam kitab Al’um yang berbunyi, “Aku senang (maksudnya adalah sunah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau mukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada  agar mereka menampakkan (syiar)  takbir”.

“Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjemaah adalah bid’ah. Bahkan, yang ada adalah justru sebaliknya, anjuran dan contoh  takbir bersama-sama dari ulama terdahulu,” tegas Buya Yahya yang sempat mengeyam pendidikan di Yaman ini.

Ia kemudian menyimpulakan beberapa poin. Pertama, pernah terjadi takbir bersama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Kedua, anjuran dari Imam Syafi’i r.a. mewakili  ulama salaf. Ketiga, tidak pernah ada larangan takbir bersama-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri. Yang ada adalah anjuran  takbir dan zikir secara mutlak baik secara  sendirian ataupun berjemaah. Keempat, adanya pem-bid’ah-an dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

 

Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah

Buya Yahya menjelaskan, sudah disepakati oleh para ulama empat mazhab bahwa disunahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ mengatakan sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah. Pendapat seperti inilah yang ada dalam semua kitab fikih empat mazhab.

“Artinya, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan salat, berzikir, dan membaca Alquran, khususnya bertakbir.  Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu. Maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai,” ujarnya.

Sang Kyai ini kemudian mencontohkan hal yang kerap dilakukan santri dan jemaah Al-Bahjah. “Ada takbir keliling sebagai upaya membesarkan syiar takbir. Kemudian kunjungan dari masjid ke masjid untuk melakukan salat sunah. Termasuk menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi. Semua itu dalam upaya menjalankan  sunnah yang dijelaskan oleh para ulama yang disebutkan tadi,” tutup Buya Yahya. (Ed: EA)

Related posts

*

*

Top