Yang Muda, Yang Memberi (1): Dahsyatnya Manfaat Memberi

Yang Muda, Yang Memberi (kampanye)

Yang muda, yang menghambur-hamburkan duit? Eits, kata siapa? Tidak semuanya anak muda memiliki tabiat seperti itu. Jika kita menelisik lebih teliti,  tren “memberi” di kalangan anak muda dan kelas menengah kini mulai menjamur. Justru, makin mapan seseorang, sebenarnya kecenderungan untuk memberi bisa saja makin menguat.

Hal ini diungkapkan oleh ekonom Arif Giyanto dalam salah satu artikelnya di JogjaDaily.com. Pada setting modal, Kelas Menengah dianggap sebagai kelompok yang paling sadar informasi. Mereka memiliki alat untuk mengakses informasi, lantas mengolahnya menjadi sesuatu yang mereka mau.

Kelas Menengah juga merupakan potensi filantropi tinggi, lantaran rata-rata dari mereka telah berkecukupan dan membutuhkan gaya hidup baru dengan berbagi. “Berbagi akan menjadi kebutuhan lazim bagi mereka yang membutuhkan keaslian suasana kemanusiaan. Zaman di mana berbagi menjadi pelepas dahaga aktivitas kerja yang padat dan menjemukan,” tulis Arif.

Kita melihat bagaimana gerakan koin untuk Prita Mulyasari dapat menjaring donasi sebegitu besar. Kemudian kita menjadi saksi keberhasilan penggalangan uang pengganti hukuman mati Tenaga Kerja Wanita (TKW) Satinah. Dua-duanya disokong dari kalangan menengah berpendidikan. Baru-baru ini muncul situs penggalangan dana rempugan seperti wujudkan.com, ayopeduli.com, serta kitabisa.co.id. Semuanya ditampilkan dalam bentuk catchy dan menarik.

Memangnya, apa yang membuat orang-orang makin senang untuk berbagi? Ada efek psikologis apakah? Mengapa memberi perlahan dianggap sebagai wahana kebahagiaan ketimbang menghabiskan harta sendiri?

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui hasil beberapa penelitian.  Dalam sebuah penelitian di tahun 2006, Jorge Moll dan rekan-rekannya di National Institutes of Health menemukan fakta menarik perihal orang-orang yang suka memberi. Aksi memberi akan mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan kesenangan, hubungan sosial, kepercayaan, bahkan menciptakan efek “cahaya hangat”. Para ilmuwan juga percaya bahwa perilaku altruistik melepaskan endorfin di otak, menghasilkan perasaan positif yang dikenal sebagai “helper’s high”.

Dalam sebuah studi tahun 2006 oleh Rachel Piferi dari Johns Hopkins University dan Kathleen Lawler dari University of Tennessee, orang-orang yang memberikan dukungan sosial kepada orang lain memiliki tekanan darah lebih sehat dibandingkan yang tidak.

Dalam penelitian lain, individu peduli dan altruistik memiliki respon imun yang lebih kuat baik di penyakit kronis. Bahkan, orang-orang yang suka memberi memiliki risiko kematian yang lebih rendah (Dillon & Wink, 2007; Ironson, 2007; Konrath & Fuhrel-Forbis, 2011b). Wah! Masya Allah.

Lalu, bagaimana Islam sendiri memandang tren filantropi? Dalam Alquran, sudah nyata-nyata terdapat ayat yang menggambarkan fenomena tersebut. Dalam Al Baqarah ayat 261, disebutkan “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Ada pula “Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai. Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

Menafkahkan harta dengan tulus dan mengharap ridha ta’ala, insya Allah akan mendatangkan banyak manfaat. Banyak manfaat bukan hanya manfaat dalam bentuk harta, namun juga dalam bentuk-bentuk lain seperti kesehatan dan kesenangan jiwa. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh penelitian-penelitian yang sebelumnya tercantum.

Staf Ahli Pembina YPM Salman ITB, Samsoe Bassaroedin—menyebutkan hampir semua agama mengajarkan etos memberi. Ia menyebut semangat kedermawanan berdasarkan semangat keagamaan sebagai philantrophy religio. “Ada semacam perasaan senasib sepenanggungan. Jika ada orang yang kesusahan, ia iba dan ingin membantu,” jelasnya ketika diwawancarai di Salman, Senin (20/4).

Namun, Islam memiliki berbagai konsep berbagi lebih luas. Ada yang wajib dan ada yang sunat. Termasuk ke dalam yang wajib adalah zakat maal, zakat fitrah, infaq wajib, denda, warisan, dan lain sebagainya. Kedermawanan yang sunat antara lain infaq, hibah, hadiah, wakaf, serta sedekah. Berbagai bentuk kedermawanan tersebut seringkali disebut Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf (Ziskaf). “Bentuk penerapannya memiliki konteks masing-masing,” kata dia.

Lantas, bagaimana soal perintah zakat yang ada dalam Rukun Islam? Samsoe berpendapat, zakat yang ada dalam Rukun Islam adalah jenis zakat Maal. Zakat maal sendiri menjadi wajib jika penghasilan seorang muslim sudah mencapai batas tertentu. Batas kekayaan tersebut adalah “20 dinar emas per tahun.

“Kira-kira 85 gram emas. Jika harga 85 gram emas Rp400.000,-, maka didapat penghasilan minimal orang mengeluarkan zakat ialah yang berpenghasilan Rp34.000.000 per tahun, atau Rp3 jutaan per bulannya,” ungkap Samsoe.

Lantas, apa keuntungan yang didapat dari Ziskaf? Samsoe menyebutkan, keuntungan-keuntungan tersebut adalah:

  1. Redistribusi agar harta merata. Hal ini mencegah jurang ketimpangan antara miskin dan si kaya yang begitu besar.
  2. Membersihkan harta dan menyucikan dosa. Dalam 100% harta kita, ada kemungkinan berbagai kesalahan transaksi sehingga tidak sepenuhnya murni. Lagipula, pada dasarnya dalam harta kita ada hak harta orang lain yang tidak disadari.
  3. Membuat kita menghargai karunia Allah.

 

 

 

 

Related posts

*

*

Top