Film Islami Tak Harus Eksplisit

KH. Miftah Faridl (kiri).

KH. Miftah Faridl (kiri).

Indonesia tengah ‘demam’ film Islami. Berbagai macam film yang mengangkat tema Islam giat diproduksi sineas negeri ini. Beberapa di antaranya menuai puja-puji khalayak. Beberapa yang lain, justru dikritik habis-habisan. Misalnya film “Hijab” dan “Perempuan Berkalung Sorban” karya sutradara Hanung Bramantyo. Keduanya dinilai tidak tepat dalam menggambarkan Islam yang hakiki. Bahkan, film “Hijab” sempat mengundang aksi boikot dari beberapa kelompok.

K.H. Miftah Faridl menilai, kehadiran film Islami sebenarnya merupakan hal yang positif. Pasalnya, kini banyak film dengan nilai-nilai yang berlawanan dengan Islam. Meski demikian, tak semua film Islami harus ‘eksplisit’ menunjukkan jati diri dakwahnya. Bagi Anggota Majelis Pembina YPM Salman ini, teknis penyampaian tersebut merupakan bagian dari seni berdakwah.

“Ada teman-teman berdakwah tidak terasa ayat, hadisnya. Tapi substansinya Islami. Itu pun tergantung pada masyarakat,” tuturnya, Kamis (19/2) lalu.

Soal sasaran seni berdakwah tadi, ada dua macam masyarakat. Masyarakat pertama begitu dekat dengan Al-Qur’an. Lain halnya dengan masyarakat tipe kedua. “Begitu bilang Qur’an belum apa-apa sudah kaget,” kata Miftah.

Bila ada muatan bisnis dalam film, menurutnya wajar. Apalagi jika dikaitkan dengan konteks pendidikan untuk umat. Dalam hal ini, Miftah menjelaskan, selama film tersebut bermuatan dakwah dan tidak melanggar aturan Islam, tentu sifatnya baik-baik saja. Dalam dakwah pun ada amal ma’ruf dan nahi munkar. Selain mencegah kemunkaran, Muslim juga wajib untuk menganjurkan hal-hal yang baik.

Senada dengan itikad baik tersebut, Salman Films tengah menggarap produksi dua film layar lebar yang bertajuk “Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)” dan “Iqro'”. Film “Iqro'” yang ditujukan bagi penonton kanak-kanak ini dijadwalkan rilis pada Oktober 2015 mendatang. Sedangkan KMGP masih  berada dalam proses pencarian bintang utama. [ed: Dh]

Related posts

Top