Geliat Kajian di Salman (3): Dewan Pakar, “Think Tank”-nya Masjid Salman ITB

T.A. Sanny (kiri) dan Moedji Raharto (kanan). Keduanya adalah anggota Dewan Pakar YPM Salman ITB. (Foto: Tristia R.(

T.A. Sanny (kiri) dan Moedji Raharto (kanan). Keduanya adalah anggota Dewan Pakar YPM Salman ITB. (Foto: Tristia R.)

Masjid Salman ITB mempunyai ciri khas tersendiri. Aktivitasnya selalu berpijak pada sains, teknologi dan seni yang dimanfaatkan untuk kemajuan umat. Salman berupaya memahami keterkaitan Alquran dalam prespektif sains dan teknologi. Hal ini diungkapkan Teuku Abdullah Sanny, ketua Dewan Pakar Salman ITB saat ditemui Salman Media (28/5).

Selama ini ketika berbicara soal sains dan teknologi seperti lepas dari Islam. Maka perlu ada komunitas yang menangani jembatan antara sains, ilmu pengetahuan, teknologi dan Alquran. Menurut Sanny, itu adalah peran Dewan Pakar Salman ITB.

“Sebagai contoh dalam penentuan waktu awal bulan ramadhan dan idul fitri, kemudian memahami keajaiban bumi dan alam semesta,” ungkap Sanny yang juga dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB.

Sanny menjelaskan, Dewan Pakar Salman ITB berfungsi sebagai ”think tank” keseluruhan aktifitas Masjid Salman ITB. Dewan Pakar konsen memikirkan tentang perkembangan Islam, umat Islam, bangsa dan negara. “Misalnya, Masjid Salman ITB membuat kriteria terperinci tentang pemimpin negara berkarakter islam,” terang Sanny.

Ia melanjutkan, Dewan Pakar juga memikirkan teknologi untuk memajukan masyarakat, masjid, dan pesantren. Dewan Pakar ingin membuat model-model pembangunan masjid dan pesantren yang memanfaatkan energi surya, energi angin, dan membuat green architecture.

Dewan pakar juga turut aktif dalam mendesain perkembangan generasi muda Islam kedepan. Sanny mengatakan, jangan sampai generasi-generasi Salman yang akan datang terjurumus pada pergaulan yang nista dan pekerjaan yang sia-sia.

“Dewan Pakar salman membangun pemikiran itu, membuat desain untuk membangun generasi-generasi yang akan datang supaya paham akan sains, teknologi, dan juga Alquran,” ungkap Sanny.

Anggota Dewan Pakar mayoritas adalah dosen ITB. Namun selain itu ada juga dari UIN SGD Bandung, UNISBA, dan UNPAD. Antara lain Yasraf Amir Piliang (Dosen FSRD ITB), Moedji Raharto (Dosen Astronomi ITB), Asep Saeful Muhtadi (Dosen Ilmu Komunikasi UIN SGD), Armahedi Mahzar (pakar Fisika ITB), Fadlullah, Hari Utomo, Budhiana Kartawijaya (jurnalis senior Pikiran Rakyat), dan lain-lain.

“Hasil dari diskusi dewan pakar bisa berupa rekomendasi, bisa buku, bisa video, bisa juga hasil-hasil ceramah.  Hasil diskusi itu kami jadikan sebagai masukan-masukan terhadap Pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan lain-lain untuk pengembangan Islam di Indonesia,” pungkas Sanny.***

Related posts

*

*

Top