Geliat Kajian di Salman (1): Kajian Pemberadaban, Tumbuhkan Benih “Umat Terbaik”

Adriano Rusfi pada Pengajian Budaya, (19/4) lalu. (Foto: Tristia R.)

Adriano Rusfi pada Pengajian Budaya, (19/4) lalu. (Foto: Tristia R.)

Bidang Kemahasiswaan dan Kaderisasi sudah mulai memasukkan unsur kajian ke dalam kegiatan-kegiatan mereka. Salah satunya di kegiatan Latihan Mujtahid Dakwah (LMD). Menurut Agis, peserta LMD akan dikenalkan pada sebuah masalah. Peserta dipancing agar dapat peka pada masalah sehingga pada akhirnya mereka mengajukan ide dan solusi.

“LMD sendiri memang menanamkan kepada kita agar bisa peka memahami masalah-masalah yang ada di sekitar,” papar Agis Nurholis, salah seorang mahasiswa pegiat BMK.

Trainer LMD Adriano Rusfi mengatakan LMD yang berdurasi 3 hari sangat jauh dari cukup. Apalagi, tema rutin LMD adalah sebuah tema besar bagi sebuah ijtihad teknologi. Oleh karena itu, Adriano berinisiatif menggagas Kajian Peradaban.

“Perlu upaya serius dan sistematis daram rentang waktu 20 sampai 25 tahun untuk mewujudkan sebuah Khairu Ummah yang berbasis pada peradaban dan penguasaan teknologi. Ini menjadi salah satu diadakannya Kajian Peradaban,” kata Adriano melalui surat elektronik, Senin (26/6).

Kajian Pemberadaban sendiri sudah berlangsung sebanyak enam kali. Materi-materi yang disampaikan pada Kajian Pemberadaban pada dasarnya meliputi domain (1) reorientasi paradigma dari ummat yang melakukan perlawanan atas ketertindasan kepada ummat yang memiliki harga diri untuk menegakkan supremasinya sendiri; (2) memberikan kelengkapan makna tentang Khairu Ummah (Ummat Terbaik), meliputi ciri dan kualifikasinya; (3) menggambarkan proses sistematik bagi terbangunnya Khairu Ummah, yang meliputi target, metode, aksi-aksi dan tolok ukurnya; serta (3) Menjelaskan tentang program-program aksi sebuah Khairu Ummah bagi kemanusiaan, dalam bentuk amar-ma’ruf, nahi-minkar dan keberimanan kepada Allah.

Adriano mengakui, antusiasme terhadap Kajian Pemberadaban ini masih rendah. Kehadiran pada setiap kajian belum sampai 10 orang. Sebagian diantara mereka yang berminat menyatakan bahwa waktu pelaksanaan Kajian Pemberadaban bentrok dengan aktivitas-aktivitas mereka di Masjid Salman atau di tempat lain.

Walaupun demikian, Adriano berpendapat Kajian Peradaban juga memiliki progres tersendiri. Pertama, peserta kajian yang hadir dapat dikatakan memiliki komitmen yang cukup tinggi, sehingga jarang absen. Kedua, jumlah yang hadir cenderung terus bertambah. “Yang harus dijaga dari Kajian Pemberadaban ini adalah keikhlasan dan kontinuitas pelaksanaannya, di tengah sejumlah kendala, termasuk kendala ketersediaan waktu saya sendiri,” paparnya.

Adriano berharap Kajian Pemberadaban ini tidak akan selamanya kajian satu arah dengan dirinya sebagai pembicara utamanya. Selanjutnya, Kajian Pemberadaban akan lebih diarahkan kepada pembetukan Group, Club, dan Team yang akan menjalankan sejumlah workshop dan proyek untuk membangun karakter dan kompetensi Khairu Ummah.

Rencana ke depan dari Kajian Pemberadaban seperti yang ditulis Adriano adalah (1) membuat agenda dan “kurikulum” Kajian Pemberadaban yang lebih sistematis namun tetap dinamis; (2) menetapkan narasumber Kajian Pemberadaban yang lebih kaya; (3)  membangun Group, Club dan Team yang fokus pada penguasaan kompetensi, pengembangan minat, dan implementasi proyek kemanusiaan; (4) menyelenggarakan program-program aksi berbasis isu-isu kemanusiaan, seperti kemiskinan, korupsi, pencemaran lingkungan. ***

Related posts

*

*

Top