Jiwa Ksatria untuk Tahu yang Hakiki

Ilustrasi: earlydemocracy101.weebly.com

Ilustrasi: earlydemocracy101.weebly.com

oleh: Alfathri Adlin*

“Kalahkan singa di kandangnya.”

Perkataan tersebut bisa menggambarkan semangat berbagai kajian ilmiah yang diadakan di lingkungan Masjid Salman. Perkara yang seringkali membuat prihatin adalah budaya literasi yang buruk dan prasangka yang kadung berurat akar. Wacana-wacana akademik tertentu tak jarang hanya bermodal “katanya”—di sebagian kalangan Muslim Indonesia.

Ketimbang melontarkan argumen yang kuat dan teruji, yang dikemukakan hanyalah ketidaksukaannya pada wacana-wacana tersebut. Untuk itulah Studia Humanika Salman berupaya membangun budaya mengkaji dan berpikir secara mendasar di lingkungan Masjid Salman ITB.

Tujuannya untuk menggodok siapa pun yang mau belajar terbuka namun kritis, serta terlatih untuk mengkritik dengan argumentasi yang teruji dengan dilandasi pemahaman yang menyeluruh lagi mendasar.

Zamzam AJT pernah memberikan suatu alegori yang tajam: “Katanya ada seekor naga di balik gunung, di suatu negeri. Tapi itu katanya—dan tak jelas kata siapa. Sebagian besar orang di negeri itu memilih berlindung diri walau tidak pernah melihat, apalagi bertemu sang naga; tak mau berusaha untuk mencari tahu hingga akhir hayat.

“Mereka hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui perihal ada atau tidaknya. Hanya sedikit sekali di antara mereka yang berani menghampiri, mencari tahu.

“Itu perlu keberanian, jiwa ksatria. Keberanian untuk salah, kalah, bahkan mati. Tapi mereka yang berani itu memenangkan sebuah keyakinan; tahu yang hakiki.”***

 

*Alfathri Adlin adalah pengkaji budaya dan agama serta penggagas kajian Studia Humanika di Masjid Salman ITB.

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

*

*

Top