Menghadirkan Tokoh Kontroversial dalam Dialog

Zuhairi Misrawi, salah satu pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang pernah diundang pihak Salman dalam seminar "Refleksi untuk Menyongsong Era Kebangkitan Islam", 4 Juli 2013 lalu.

Zuhairi Misrawi, salah satu pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang pernah diundang pihak Salman dalam seminar “Refleksi untuk Menyongsong Era Kebangkitan Islam”, 4 Juli 2013 lalu. (Foto:  twtrland.com)

Memang, kini terdapat tokoh–tokoh tertentu yang memiliki pendapat “nyeleneh” dari prinsip-prinsip Islam yang kita yakini. Lantas, apa yang terjadi jika tokoh tersebut diundang dalam suatu majelis umum. Bahkan lebih jauh lagi, bagaimana jika mereka diberi kesempatan untuk berbicara di muka orang yang berseberangan paham dengannya?

Wajar jika suatu acara yang mengundang tokoh “kontroversial”, masyarakat akan memandang segala yang melingkupi acara tersebut juga “kontroversial”. Salah satunya adalah anggapan masyarakat bahwa komunitas X telah terasuki aliran tertentu karena mengundang tokoh tersebut.

Baru-baru ini, beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati Bandung berhasil “mengusir” Ulil Abshar Abdalla yang merupakan tokoh JIL. Sebelumnya, dilaporkan bahwa tokoh liberal itu akan hadir memenuhi undangan milad jurusan Pembandingan Mahzab dan Hukum di UIN pada Senin 5 Mei 2014 lalu.

Masjid Salman ITB pun terhitung pernah mengundang beberapa tokoh kontroversial. Salah satu di antaranya Zuhairi Misrawi, salah satu pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL). Bersama Fachry Ali, Dawam Rahardjo, Armahedi Mahzar, ia pernah menajdi pembicara dalam seminar “Refleksi untuk Menyongsong Era Kebangkitan Islam”, 4 Juli 2013 lalu.

Ustadz Yajid Kalam dari Bidang Dakwah (BD) Salman ITB menjelaskan, ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat seharusnya tidak menutup seseorang untuk berdiskusi dan bertemu. Suatu proses klarifikasi terhadap orang-orang yang dianggap berbeda pendapat itu penting. Jangan dihakimi sepihak.

“Hal itulah yang saya jelaskan pada sahabat-sahabat saya saat Salman mengundang tokoh yang dianggap berasal dari komunitas aliran tertentu. Saya lalu bertanya pada sahabat saya, apakah pernah bertemu dengan orang-orang ini. Mereka pun menjawab, belum pernah bertemu,” ujar Yajid

Pertanyaannya kepada sahabat-sahabatnya lantas berlanjut, ‘Bagaimana Anda menganggap orang lain seperti itu jika sekalipun belum pernah bertemu dan berdiskusi?’ Yajid berkata, mereka menjawab ‘katanya’. Lantas, Yajid menyarankan kepadamereka untuk berdiskusi secara langsung.

“Kita bisa berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita jadi tidak masalah kita undang,” lanjutnya

Bagi Yajid, jika mengundang orang yang berbeda pendapat diharapkan ada dua atau bahkan lebih sudut pandang yang berbeda. Ini dikarenakan supaya ada proses klarifikasi. Jangan hanya ada satu atau sekelompok pembicara yang diundang dan sepaham, namun menyalahkan sudut pandang yang lain.

Dengan mengundang dan berdiskusi adalah suatu upaya untuk memahami perspektif yang berbeda. Jika ada anggapan bahwa dengan mengundang tokoh tertentu lantas dianggap bahwa komunitas ini terasuki oleh paham X,Y,Z merupakan kesimpulan yang kurang tepat.

“Berhubungan baikkah dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Berdebatlah dengan etika yang baik,” lanjutnya

Ustadz Yajid memberi contoh bahwa Gusdur menolak peraturan tentang sulitnya izin untuk membangun rumah ibadah bagi umat minoritas. Umat Islam kala itu banyak yang beranggapan bahwa Gusdur telah membuat keputusan yang salah.

Namun, setelah diklarifikasi, Gusdur menjelaskan bahwa di tempat yang mayoritas Islam, aturan ini membuat umat agama lain susah membuat tempat ibadahnya. Lantas apa jadinya jika umat Islam berada di tempat minoritas. Mereka pun susah membuat masjid. Ini salah satu contoh klarifikasi yang diberikan oleh seorang Gusdur ketika pendapatnya menuai kontoversi.

“Belajar yang banyak agar bisa memahami cara berpikir orang lain. Bergaul yang luas serta jangan menganggap diri terlalu benar dan menganggap orang lain salah,” saran Ustadz Yajid di akhir wawancara.

*

*

Top