Para Pengajar Honorer: Nasib Serupa, Sikap Beragam

Komalasari (35), berfoto bersama dengan murid di PAUD Kuncup Mekar, Jum'at (25/4) lalu. (Foto: Nenden J.)

Komalasari (35), salah seorang guru honorer berfoto bersama dengan murid di PAUD Kuncup Mekar, Jum’at (25/4) lalu. (Foto: Nenden J.)

Di sekolah yang tak jauh dari gedung wakil rakyat itu,ia mengajar berbelas-belas tahun. Penghasilannya jauh lebih kecil dari seorang buruh pabrik. Namun, semangatnya untuk mencetak generasi penerus bangsa ini tak pernah surut.

Mimin Sulastri (39) bersama-sama rekan seperjuangan tak henti berteriak, menagih janji pemerintah. Sampai detik ini statusnya sebagai guru honorer K2 belum menngkat. “Pemerintah pusat mengatakan tidak ada tes. Jadi, honorer K2 diangkat berdasar masa kerja,” kata Mimin di perpustakaan sekolah SMKN 2 Kota Bandung, Jumat (25/4).

Mimin merupakan salah satu guru honorer K2 yang telah mengikuti pemberkasan di tahun 2010. Guru honorer dengan masa kerja minimal 5 tahun boleh ikut pemberkasan. Awalnya pemerintah pusat mengatakan tidak ada tes untuk honorer K2 yang melakukan pemberkasan. Nyatanya pada November 2013 tes berlangsung.

“Kami (honorer K2) mengiranya hanya formalitas saja. Ternyata tidak,” ujarnya. Saat dibuka kelulusan bulan Februari 2014, Mimin seorang di antara yang tidak lulus. Ia pun menyesalkan adanya oknum guru honorer yang masa kerjanya kurang dari 5 tahun tapi bisa ikut pemberkasan dan lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Misalnya saja saat pemberkasan itu ternyata masa kerjanya baru 2 tahun sudah diangkat. Sementara mereka yang benar-benar harus diangkat itu tidak diangkat. “Malah teman saya yang masa kerjanya lebih dari 20 tahun tidak diangkat,” ungkap guru pengampu mata pelajaran TIK itu.

“Banyak yang saat pemberkasan itu baru lulus S1 di tahun 2011. Dari pemberkasan kalau dilihat itu sudah tidak boleh ikut. Pemberkasan kan beda dengan jalur umum. Tidak ada pemberkasan di jalur umum. Memang pada dasarnya yang “siluman” itu banyak. Tapi kalau dari pemberkasan itu lebih kelihatan,” tegas Mimin melepas kejengkelannya.

Meskipun tidak diangkat, Mimin dan rekan-rekannya telah berikrar tetap bekerja dan mengajar maksimal. “Kasihan yang sudah usia 50 tahun, istilahnya ingin merasakan jadi PNS sekali seumur hidup. Kalau kita tidak dikasih harapan kita juga tidak akan menuntut apa-apa. Buat apa ada pemberkasan, sudah saja jalur umum. Jadi, pemerintah memberi harapan duluan,”

Budi Sihabudin, guru honorer di SD Cibiru 2 mengatakan menjadi guru itu sudah menjadi panggilan hati, Meski selalu berupaya untuk ikhlas mengabdi, kebutuhan akan gaji yang cukup tak dapat dikesampingkan.

Budi mengaku, untuk memenuhi kebutuhan keluarga ia membuka les privat dan kursus baca tulis al-qur’an di rumahnya. Gaji sebesar 500 ribu Rupiah per bulan ternyata tidak dapat dijadikan sebagai tumpuan utama keluarga,” tuturnya, Sabtu (26/4).

Haida, guru PAUD al-Uswah Cinunuk mengungkapkan, karena menjadi guru berstatus PNS sangat sulit ia terpaksa mencari kerja sampingan. “Gaji yang saya dapat itu hanya 200 – 400 ribu per bulannya. Saya pun harus mencari pekerjaan sampingan dengan berbisnis peralatan makan, pakaian, dan membuka warung,” katanya, Kamis (24/4).

Mengingat kondisi tersebut, Haida berharap pemerintah dapat lebih memerhatikan nasib guru honorer, terutama perihal sertifikasi. Haida berpendapat, sertifikasi harusnya diberikan pada guru honorer saja. Karena dengan begitu, mereka bisa mendapatkan gaji yang setara dengan guru berstatus PNS.

Budi menyampaikan hal yang serupa. Menurutnya, pemberian sertifikasi pada guru honorer dapat mencegah timbulnya kecemburuan sosial. Meski tidak menaikkan status mereka menjadi PNS, setidaknya sertifikasi dapat menjadi solusi penyetaraan. “Saya sendiri berharap sekali bisa segera diangkat menjadi PNS, supaya saya bisa memenuhi kebutuhan dan menjadi sejahtera,” pungkasnya.

Adem-ayem dengan gaji sedikit

Selain terdapat kalangan guru honorer yang lantang menyuarakan tuntutan untuk kesejahteraan kaumnya, ada pula yang memilih bersyukur dengan insentif seadanya. Mereka lebih memilih pekerjaan lain untuk menafkahi kehidupan sehari-hari mereka.

Tengok saja Deni Rejeki. Belasan tahun ia menggeluti pekerjaan sebagai guru honorer. Pria yang hampir menginjak usia setengah abad itu kini menjabat sebagai pengelola sekaligus Kepala Sekolah Raudhatul Athfal (RA) Ramadhiyan, Riung Bandung.

Rasa cintanya pada dunia pendidikan anak-anak  membuat Deni tak ambil pusing soal gaji. Honor yang kerap dijeritkan tenaga pengajar honorer lain sebagai “honor ala kadarnya”, oa terima dengan ikhlas. Ia bahkan mengaku tak begitu berminat diangkat menjadi guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Kalau saya tidak. Karena secara usia juga sudah tidak memenuhi syarat, sudah 49. Sudahlah untuk yang muda-muda,” ungkap Deni saat diwawancarai di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (28/4) sambil tersenyum.

Di sisi lain, Deni mengakui penghasilannya sebagai Kepala Sekolah tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Penghasilan utamanya sendiri berasal dari usaha konveksi, yang biasa memproduksi pakaian seragam anak sekolah.

Tak jauh berbeda dengan Deni, Garid Ahmad Fachrudin, guru Bahasa Inggris di SMK Nur Kautsar Bojongkoneng pun memiliki pekerjaan sampingan. Maklum, honor sebesar Rp 20 ribu/jam untuk 8 jam mengajar dalam satu bulan, tak dapat menutup kebutuhan keluarganya.

“Kalau secara logika memang uangnya kecil. Tapi kalau disyukuri, sih, saya berpikir ini banyak manfaatnya. Selama kita berikhtiar untuk mencari nafkah, seberapa pun rejeki yang kita terima, ya syukuri saja,” tutur Garid, Sabtu (26/4).

Lebih lanjut, pria yang juga bekerja sampingan di Bidang Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat (BP2M) Salman ITB ini mengatakan, sebenarnya ia bercita-cita memiliki usaha sendiri. “Jadi sekarang sambil nanya-nanya juga ke temen yang sudah jadi pengusaha. Kalau berpikirnya dari honorer aja, nggak akan cukup,” ujar Garid.

Pengakuan snada diungkapkan oleh Komalasari, tenaga pengajar atau guru honorer PAUD Kuncup Mekar, Cibiru. Kecintaannya pada dunia pendidikan anak-anak membuat saya ikhlas dalam menjalani pekerjaan sebagai guru honorer,” paparnya.

Menjadi seorang pendidik memang berbeda dengan menjadi seorang pengusaha. Dalam dunia pendidikan, ada orientasi lain selain profit berupa honor atau gaji. Orientasi tersebut ialah pengabdian pada murid-murid yang diajar.

Hidup sebagai guru honorer memang berat bila hanya dilihat dari sudut pandang. Namun alangkah penuh berkahnya hidup tersebut tatkala setiap rintangan dihadapi dengan hati lapang dan ikhlas. Masalah besar atau kecilnya gaji adalah bonus dari Allah SWT.

 

[faisal | nadhira | nenden]

Related posts

One Comment;

  1. Denine said:

    Il est side9rant de voir avec quelle pre9cipitation cette de9cision a e9te9 prise, sans cooaertctinn pre9alable ni des conseillers municipaux, ni des habitants concerne9s par ce changement. Qui songe aux de9sagre9ments que procurent aux habitants un changement d adresse aupre8s des divers organismes. A n en point douter, suite e0 la lamentable affaire des tours ayant conduit e0 l abandon des projets de construction pharaonique que la mairie nous a successivement pre9sente9s depuis quatre ans, il fallait que le maire retrouve un sujet consensuel.Il est regrettable que personne au sein du conseil municipal, dans tous les groupes repre9sente9s, n ait eu l ide9e de demander que si le principe de donner le nom de Parfait Jans e0 une rue de Levallois faisait l unanimite9, le choix de la rue pouvait eatre soumis e0 re9flexion.J approuve totalement votre texte e0 ce sujet.Qui a pense9 aux habitants et aux multiples proble8mes qu ils vont rencontrer ? Oui, il aurait e9te9 plus pertinent d attendre un peu et de baptiser un lieu nouvellement cre9e9Pourquoi enfin, faire disparaitre le nom d Arthur Ladwig qui pendant la guerre de 1939 1945 combattit de l inte9rieur les nazis et le paya de sa vie ?En raison de son appartenance politique ?

*

*

Top