Menghentikan “Pembunuhan” di Ranah Maya

Ilustrasi: pinterest.com

Ilustrasi: pinterest.com

Selama ini, konsep “pembunuhan” yang menyenggol benak ialah adegan perang, pembantaian, penembakan, dan imajnasi lain yang “seram badai”… Namun akhir-akhir ini, tiap hari saya melihat adanya “pembunuhan” jenis lain di kampung besar semesta bernama internet.

Di kampung ini, manusia sangat mungkin untuk “membunuh” karakter manusia lain. Bahkan, manusia kuasa “membunuh” rasa kemanusiaannya sehingga tak memandang manusia sebagai manusia. Nongol di internet secara tak bijak bestari berpotensi besar bikin manusia tak memperlakukan manusia lain sebagai manusia.

Saya melihat bagaimana manusia menjadi kritikus handal dalam dunia maya.  Saya melihat bagaimana manusia lekas menyusun kesimpulan tentang seseorang atau sesuatu berdasarkan informasi cepat saji yang ia dapat dari internet.

Saya melihat bagaimana manusia enggan secara khidmat memahami persepsi orang lain– hingga ia mengenal latar belakang orang yang ia ingin pahami. Saya melihat bagaimana manusia memandang orang yang menurut mereka bodoh sebagai objek hina-dina di ranah maya.

Bisa jadi, manusia dicerca bagaikan iblis karena “dosa” sosial yang ia lakukan. Dapat pula ia dipandang manusia lain bak dewa tiada-pernah-cacat karena citra awal yang baik.

Padahal, manusia adalah manusia. Bukan tak mungkin pendosa sekaliber prajurit iblis akan ber-taubatan-nasuha. Atau sebaliknya: sesaleh apapun ia, tak mungkin ia tak pernah berdosa.

Jika Nabi Yunus hidup di zaman sekarang, apa manusia akan mencaci maki ia karena kabur dari umatnya lewat komentar-komentar di percakapan facebook—bukannya mencari sebab-musabab ia minggat?

Atau, apa mungkin di linimasa twitter kita akan serempak memaklumi tanpa curiga kepada Nabi Daud yang atas nama syahwatnya mengambil-alih istri orang lain karena sudah terlanjur melihat sosoknya yang tampak sempurna? Padahal, sebenarnya kita dapat mengingatkan sang Nabi lewat gejala ganjil yang kita amati.

Jangan salah, saya sang menulis pun tergolong pada manusia yang seringkali terjangkit hasrat “bunuh-bunuhan” itu. Pernah kulakoni apa-apa yang kusebutkan di atas.

Oleh karena itu, saya tengah “diterapi” oleh I’tikad sendiri demi menepis “hasrat” itu. Saya berupaya tak jemu menelusuri latar belakang orang tertentu dan berempati padanya. Saya berupaya untuk rajin-rajin memahami isu dari beragam perspektif. Saya berupaya untuk memaksakan diri baca koran tiap hari yang menawarkan teks yang mending keutuhannya ketimbang informasi internet yang “sepotong-potong”.

Tentu, hasil “terapi”-nya belum sempurna. Mungkin takkan pernah sempurna. Namun Rabb saya menghargai proses. Wallahu’alam bish shawab.***

*

*

Top