Dakwah Dunia Maya (2): Dialog Lebih Jitu untuk Dakwah

Talkshow dan Diskusi Merangkai Senyum Indonesia di ruang utama Masjid Salman ITB, Jumat (31/01)

Talkshow dan Diskusi Merangkai Senyum Indonesia di ruang utama Masjid Salman ITB, Jumat (31/01)

Sedangkan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo berpendapat dakwah dalam jejaring atau dakwah online di Indonesia kebanyakkan masih menggunakan cara lama, yakni bersifat satu arah dengan pendakwah sebagai pemegang kebenaran tertinggi. Di sisi lain, Web 2.0 merupakan media yang berfungsi penuh ketika ada percakapan. Akibatnya, yang muncul adalah bentuk reaksi yang tak diharapkan oleh pendakwah karena metode dakwahnya kelewat menggurui,

“Kebenaran telah ditemukan di awal. Akibatnya tidak ada usaha untuk mencari dan berdiskusi untuk kebenaran, sehingga menjadi tidak menarik. Salah satu bentuk resistensinya adalah dengan mengubahnya menjadi lelucon,” tutur Kunto lewat surat elektronik, Selasa (22/4).

Kunto juga berpendapat, bentuk penyebaran nilai-nilai Islam khususnya di dunia maya dewasa ini sudah usang. Ia menilai, konsep dialog langsung atau percakapan sebenarnya merupakan strategi yang efektif. Triknya ialah dengan menjadikan dialog tersebut didominasi segelintir orang, agar topik yang dibahas tetap fokus dan tidak terseret popularitas opini yang berkembang. Meski demikian, cara ini tak terlepas dari tiadanya jaminan untuk tidak dihakimi atas opini.

“Teknik ini pun membutuhkan komitmen yang kuat, karena menjaga arus opini dalam suatu percakapan bukanlah sebuah tugas yang mudah,” ungkapnya.

Efektivitas Pesan Mesti Memperhatikan Khalayak

Perihal efektivitas sebuah medium atau media dalam menyalurkan pesan, menurut dosen yang juga pengamat media ini, setidaknya ada 4 faktor. Pertama, faktor khalayak sasaran pendakwah. Kedua, tepat atau tidaknya suatu media bagi pesan yang akan disampaikan. Ketiga, faktor pesaing atau pesan lain, baik yang berbeda maupun kontradiktif pada media yang sama. Terakhir, yakni apakah media tersebut menjadi media utama atau media alternatif/sampingan bagi khalayak.

Selain efektif, syarat berikutnya ialah ‘efisiensi’ dari proses penyebaran pesan. Penggunaan internet memang murah, namun bila digunakan untuk menjangkau penduduk di lokasi terpencil, misalnya perambah hutan di Papua, maka media internet bisa jadi tidak efektif dan efisien. “Semua bahasa efektif dan efisien harus terkait tidak hanya dengan media tapi dengan audiens dan pesannya, terlebih efek apa yang kita harapkan,” ujar Kunto. [ed: Tr]

*

*

Top