Memandang Kriminal (3): Manusia Sempurna Saat Perbaiki Kesalahan

 

zubairitrainer.com

Foto: zubairitrainer.com

Manusia sempurna dilihat dari usahanya memperbaiki kesalahan. Kesempurnaan justru muncul ketika manusia tersebut berupaya mengubah diri ke arah yang baik. Dosa yang diperbuat, harusnya tak dijadikan sebagai label, namun sebagai bagian dari perjalanan anak manusia dalam mencari dan memahami jati diri.

Dosa kerap dianggap sebagai arang yang mencoreng muka, dengan noda yang tidak bisa hilang selamanya. Padahal fitrahnya, manusia tidak akan bisa lepas dari kesalahan. Ustadz Muhammad Yani, Anggota Korps Da’i Siaga Bidang Dakwah (BD) Salman ITB mengatakan, terkait akan pelaku dosa, jangan sekedar berpatok pada konsep benar atau salah.

Tujuan hukum syariat sendiri adalah untuk menjadikan orang tersebut sempurna sebagai manusia. Artinya, fokus hukum dalam Islam bukan terletak pada perbaikan kesalahan, tapi perbaikan kebaikan.

“Saya malah cenderung berpendapat, kalau melihat kesalahan itu jangan terlalu luar biasa. Kesalahan jangan terlalu dipentingkan, tapi bagaimana cara orang itu melalui setelah dia salah. Justru kesempurnaan manusia terletak pada kesalahan yang dia perbaiki. Hadits kan mengatakan, ‘Setiap anak-cucu Adam, pasti berbuat kesalahan,’” tutur Yani, saat ditemui di Sekretariat BD, Senin (14/4).

Yani menjelaskan, Rasul mengajarkan tiga tahap dalam menghadapi pelaku maksiat. Pertama, cegahlah dengan tangan. Bila tidak mampu dengan tangan, cegahlah dengan perkataan. Bila tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Itulah selemah-lemahnya iman.

Meski demikian, apa yang diajarkan dengan yang dicontohkan Rasul berbeda. Rasul justru mencontohkan kita agar mendoakan orang tersebut terlebih dahulu. Setelahnya, baru dinasehati. Bila tidak mempan, kita cegah dengan kemampuan kita saat itu. Contoh tersebut menunjukkan bahwa hukum positif tak selamanya benar. Aspek kemanusiaan kadang terabaikan di dalamnya.

Hal yang sama juga berlaku bagi hukuman moral masyarakat bagi orang-orang yang pernah melanggar hukum. Yani mengatakan, hukuman moral sulit untuk dihilangkan. Padahal kesalahan biasanya timbul karena orang yang bersangkutan tidak mengenal jati dirinya. Jati diri, dalam hal ini yaitu tujuan hidup orang tersebut.

Solusinya yakni dengan membiasakan diri ber-khusnudzon. Konsep khusnudzon sendiri ialah memandang semua hal itu baik, sampai menemukan kesalahan di dalamnya.

“Jadi boleh menghukumi orang, asal jangan menghakimi,” pungkas Yani.

One Comment;

  1. Irma Omalia Rahman Aziz said:

    Saya setuju dengan pendapat Pak Yani yang menyatakan, “Kalau melihat kesalahan itu jangan terlalu luar biasa. Kesalahan jangan terlalu dipentingkan, tapi bagaimana cara orang itu melalui setelah dia salah. Justru kesempurnaan manusia terletak pada kesalahan yang dia perbaiki.” Saya teringat doa Rasulullah ketika tubuh beliau luka dihantam batu dan mukanya belepotan lumpur serta ludah orang-orang Quraisy yang menentang dakwahnya. “Ya Allah, berikanlah mereka petunjuk karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Itulah yang saya pikirkan untuk orang-orang yang melakukan kesalahan. Saya merasa mereka adalah orang yang belum tahu akan hakikat dan makna dari apa yang mereka lakukan.

    Contoh sederhananya adalah orang yang mempermainkan shalat. Yang mereka tahu bahwa shalat adalah rutinitas ibadah yang tidak punya ruh sama sekali karena mereka memang belum bisa merasakan ruh shalat itu, mereka hanya tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan karena memang mereka tidak mengerti, mereka hanya sebagian dari banyaknya umat Islam yang tidak paham dengan agamanya, mereka hanya sebagian dari umat Islam dan manusia secara umum yang tidak tahu arah dan tujuan hidupnya yang sebenarnya.

    Mengenai bagaimana menyikapi suatu kesalahan seseorang, apakah dengan “mencambuk” mereka dengan harapan mereka bisa sadar atau mengelus kepala mereka sambil memberikan pengertian? Itu semua kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Apapun yang kita lakukan, lakukan dengan hati yang ikhlas dan penuh kasih sayang. Yakinlah bahwa kasih sayang dan keikhlasan yang kita lakukan kepada mereka, itu akan sampai kepada mereka suatu saat nanti. Hati manusia itu tidak pernah bohong dan pada dasarnya hati manusia itu fitrah. Hanya karena dosalah yang mengurangi kefitrahan itu. Jadi, seburuk-buruknya seseorang, ketika hatinya masih dihidupkan oleh Allah maka yakinlah mereka bisa mendengar maksud kita. Kasih sayang itu tidak harus dalam bentuk yang menyenangkan. Kalaupun ternyata kita harus mengambil langkah “mencambuk” mereka maka itu bentuk kasih sayang kita untuk menyadarkan mereka. Oleh karena itu, sebelum kita “mencambuk” mereka, mari kita perbaiki niat kita dulu. Yakinkan dulu pada diri kita bahwa kita “mencambuk” mereka benar-benar berharap agar mereka bisa menyadari kesalahan mereka bukan karena kita sedang emosi dan sangat marah kepada mereka. Kalaupun ternyata kita mengambil langkah kedua yaitu “lunak” kepada mereka. Maka hapuslah pikiran-pikiran tentang mereka yang akan memanfaatkan ke”lunak”an kita. Bahkan kalaupun ternyata terjadi seperti itu maka yakinlah bahwa suatu saat nanti hati mereka akan tersentuh dengan kasih sayang dan keikhlasan kita kepada mereka.

    Wallahu A’lam.

*

*

Top