Hikayat Dangdut Nusantara

Foto: Tristia R.

Foto: Tristia R.

Siapa yang tidak mengenal dangdut, musik yang paling populer di Indonesia? Dangdut begitu sering diperdengarkan di rumah dan jalanan, taman umum, gang sempit, toko dan restoran, serta segala jenis tranportasi umum.

Raja dangdut Rhoma Irama, melalu syair lagunya yang berjudul Dangdut, mengisahkan adanya sejenis musik dengan irama melayu yang sungguh sedap sekali. Lagu ini sangat populer pada awal 1970-an.

“… Sulingnya suling bambu, gendangnya kulit lembu, dangdut suara gendang rasa ingin berdendang …,” demikian sebagian syair lagu yang berjudul Dangdut. Sejak saat itu, musik yang melahirkan rasa ingin bergoyang ini bernama dangdut.

Tidak ada yang tahu pasti kapan lahirnya musik dangdut. Andrew N. Weintraub dalam bukunya yang berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia (2012) menuliskan, lagu India terjemahan yang dimainkan oleh grup-grup orkes melayu  pada 1950-an dan 1960-an belakangan disebut dangdut. Perkawina antara musik India, Timur Tengah, dam Amerika tumbuh menjadi dangdut.

Dengan demikian, ketika genre dangdut belum mengkristal dan belum punya nama, unsur-unsur utamanya banyak yang sudah tersedia dalam musik “proto-dangdut” dengan lirik bahasa Indonesia dan menggunakan cengkok melayu, Timur Tengah, dan India.

“Banyak lagu pada 1940-an yang sudah berbau dangdut. Hanya namanya belum dangdut,” kata Munif Bahaswan, penyanyi dan penulis lagu dangdut kawakan dalam laporan utama Gatra (27/02/2003).

Secara spesifik, Munif menyebut lagu Kudaku Lari, yang dilantunkan A. Harris pada 1953, sebagai satu di antara lagu pelopor irama yang kelak disebut dangdut ini. Munif beralasan, lagu itu telah memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang semula hanya memakai gitar, harmonium, bas, dan mandolin.

Pada 1950-an, selain ada A. Harris, juga ada nama-nama populer lain seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, dan Juhana Satar. Kemudian pada 1960-an muncul nama-nama penyanyi seperti Ellya Khadam, Ida Laila, M. Mashabi, dan Munif Bahaswan. Pada akhir dekade ini pula mulai muncul penyanyi-penyanyi yang kelak menorehkan jejak penting dalam sejarah dangdut, seperti A. Rafiq, Elvie Sukaesih, Muchsin Alatas, Rhoma Irama, dan Mansyur S. Toh.

 

Dangdut Sebagai Instrumen Perubahan

Andrew N. Weintraub dalam buku yang sama menyebutkan, dangdut menyemarakkan khazanah cerita rakyat. Di media cetak popular dan wacana-wacana promosi dari artis, dangdut adalah “darah, jiwa dan suara rakyat”.

“Dalam alur yang berbeda, dangdut ‘sebagai’ rakyat membantu kelas-kelas menengah dan kelompok-kelompok elite menegakan dan mengokohkan posisi kelas sosial mereka sendiri”, tulis Andrew.

Rhoma Irama menciptakan musik “untuk” rakyat. Dalam transisi dari orkes Melayu ke dangdut, Rhoma Irama membidik rakyat dengan mengandalakan musik asing, gaya pementasan fantastis, kostum megah dan bentuk-bentuk media dan teknologi yang terus berubah. Bertolak dari orkes melayu, rock ‘n’ roll, musik film India, dan hard rock, ia menggunakan dangdut sebagai instrumen perubahan.

“Seniman sama dengan pemimpin pemimpin bangsa. Pemimpinnya hancur, bangsanya hancur. Jadi kalau kita menyampaikan pesan yang baik, itu tidak akan pernah sia-sia. Kalau dari seratus orang ada satu orang yang menjadi baik karena lirik kita, itu sudah lebih dari cukup,” kata Rhoma Irama dalam Komunikasi Pribadi (14/07/2003).

Pada tahun 1980, Rhoma Irama adalah artis perseorangan terkuat dalam industri musik Indonesia. Ia membentuk grup musik sendiri dan membeli sebuah perusahaan rekaman kecil. Kemudian ia membuat label rekaman dan perusahaan distribusi sendiri yang diberi nama Sonata Records. Hal ini agar ia memiliki kekuatan lebih besar dalam mengendalikan produksi dan peredaran produk-produknya.

“Film-film yang dirancang di seputar musiknya (Rhoma Irama –red) memberinya kesempatan untuk memperluas bisnisnya. Sukses Rhoma Irama dalam industri hiburan merangsang perkembangan bentuk-bentuk musikal baru dan makna-makna baru dalam dangdut, kemunculan bintang-bintang baru, dan ekspansi industri dangdut,” tulis Andrew dalam bukunya.

Pada 1980-an, dangdut meluaskan jangkauannya dengan melebur ke dalam bentuk-bentuk media dan teknologi. Dangdut melanglang bersama bus-bus via kaset, diangkat oleh film, televisi, dan radio ke seantero pulau-pulau di Indonesia. Meningkatnya kehadiran VCD bajakan pada 1990-an dan 2000-an memungkinkan konsumen untuk menyaksikan aneka macam gaya dangdut dan ragam dangdut daerah.

Andrew menyimpulkan, dangdut dianggap sebagai budaya populer pada 1970-an. Lalu dangdut dikomersilakan pada 1980-an, dimaknai ulang sebagai ragam musik pop nasional dan global pada 1990-an, dan terlokalisasi dalam komunitas-komunitas etnik pada era 2000-an.

Ingin tahu dangdut lebih dalam? Bagaimana jika dakwah didangdutkan? Apa jadinya kalau dangdut berkelana sampai ke luar negeri?

Ikuti keseluruhan liputan khusus Salman Media dengan tema “Ngaji Dangdut Yuk!” Maret ini.***

Related posts

*

*

Top