“Saya Seorang Muslim”

 

(Foto: republika.co.id)

(Foto: republika.co.id)

Oleh: Fatchul Umam

Pertengahan Februari 2011, saya mulai bekerja mempersiapkan sebuah joint venture antara perusahaan saya dengan sebuah perusahaan Jerman untuk mendirikan pabrik steam turbine di Bandung. Counterpart saya dalam bidang material majemen dari Jerman datang berkunjung ke kantor saya di Bandung. Kami selanjutnya akan bertanggung jawab dalam pengadaan seluruh kebutuhan material untuk membangun steam turbine engine.

Ketika pertama kali bertemu, counterpart saya memperkenalkan diri: How do you do. I am Christian. Saya jawab: How do you do. I am muslim.

Dia nampak kikuk kemudian berkata: My name is Christian xxxx. Secara otomatis saya mengucapkan exclamatory sentence: Oh, My name is Fatchul Umam, please call me with my second name: Umam.

Saya tidak menyangka bahwa namanya Christian. Ia tidak menyebutkan nama belakangnya. Karena itu saya jawab bahwa saya seorang muslim. Akhirnya memang Christian mengerti bahwa saya seorang muslim, tentu ia menduga bahwa saya mengerti Islam, buktinya berani mengaku diri sebagai muslim di depannya. Saat makan siang bersama, ia mengajukan pertanyaan ringan tentang Islam dan orang muslim.

“Umam, anda sebagai muslim, anda tentu percaya dan menghormati Nabi Ibrahim, bukankah Nabi Ibrahim seorang Yahudi? Mengapa pula orang-orang muslim memusuhi Yahudi?” kata Christian.

“Christian, dari mana anda tahu bahwa Nabi Ibrahim orang Yahudi?” saya balik bertanya.

“Ya. Saya tahu dari bacaan kitab suci yang saya baca,” jawabnya.

“Coba cek sejarah. Nabi Ibrahim punya dua putra. Ismael dan Ishaq. Setuju?” Christian menganggukkan kepala.

“Ishaq mempunyai putra yaitu Ya’kob. Nama lain dari Ya’kob adalah Israel. Okey?” tambah saya. Christian menganggukkan kepala lagi.

“Diantara putra Ya’kob adalah Yahuda, yang akhirnya namanya diambil menjadi nama suku anak cucunya dan juga menjadi nama agama mereka, yaitu Yahudi. Okey?” Christian menganggukkan kepalanya.

“Nabi Musa yang hidup sekitar 6 abad setelah Nabi Ibrahim, dikenal sebagai Nabi bagi kaum Yahudi. Okey?” Christian menganggukkan kepala untuk kesekian kali, tanda setuju.

“Bagaimana mungkin seseorang disebut sebagai pengikut sang cucu? Sehingga Nabi Ibrahim diklaim menjadi pengikut Nabi Ya’kob yang masa hidupnya lebih dari seabad dari masa Nabi Ibrahim sendiri?” kata saya.

“Juga bagaimana mungkin seseorang disebut sebagai mengikuti sang cicit? Sehingga Nabi Ibrahim diklaim menjadi pengikut salah satu putra Nabi Ya’kob yang masa hidupnya lebih dari seabad dari masa Nabi Ibrahim sendiri?”

“Dan juga bagaimana mungkin seseorang disebut sebagai mengikuti ajaran seorang nabi yang masa hidupnya berabad-abad setelahnya? Sehingga Nabi Ibrahim diklaim menjadi pengikut Nabi Musa yang masa hidupnya jauh berabad-abad sesudah masa Nabi Ibrahim?”

“Mengapa orang-orang muslim membenci Yahudi Israel?” Saya mudah menjawab pertanyaan ini.  Bukankah mereka telah melakukan kekejaman yang amat sangat luar biasa terhadap kemanusiaan? Mengusir penduduk Palestina dari negeri mereka sendiri. Menyiksa dan membunuhi orang Palestina serta menjarah tanah Palestina. Fakta ini terbuka tanpa tedeng aling-aling. Siapapun juga bisa membaca dan melihat kejahatan Yahudi dengan mudah. Sudah tentu sangat dungu dan bebal kalau tidak membenci Yahudi Israel.

Christian terdiam mendengar uraian saya tersebut. Saya teringat firman Allah SWT dalam surah Ali Imran. Allah SWT berfirman dengan nada mengejek kepada orang-orang yang mengklaim bahwa Nabi Ibrahim adalah Yahudi atau Nasrani dengan klaim yang tidak bersumber kepada dalil apapun.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (Ali Imran 65)

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (Ali Imran 66)

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi pula seorang muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (Ali Imran 67)
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran 68)

Terhitung mulai Juni 2011, saya mengundurkan diri dari joint venture.

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

*

*

Top