Mengkaji Kitab Melalui Kelas Bahstul Kutub

Mengkaji kitab gundul membutuhkan ilmu dan pemahaman yang baik akan bahasa Arab. Foto: www.elhooda.net

Mengkaji kitab gundul membutuhkan ilmu dan pemahaman yang baik akan bahasa Arab.
Foto: www.elhooda.net

Tak semua orang bisa membaca kitab gundul, atau kitab berhasa Arab tanpa syakkal atau harakat. Melafalkannya saja sudah sulit, apalagi mengkaji maknanya? Bidang Dakwah Salman kemudian menyelenggarakan kelas Bathsul Kutub yang termasuk ke dalam program Studi Islam. Tujuannya antara lain untuk memfasilitasi mereka yang ingin mengkaji al-Qur’an terutama dari ilmu bahasanya.

“Bathsul Kutub ini sebagai ajang latihan bagi mereka yang sudah dibekali ilmu “alat” seperti ilmu nahwu dan tasrif. Jadi, ini adalah latihan membaca kitab dengan menggunakan ilmu nahwu dan ilmu shorof yang sudah dipelajari sebelumnya,” terang Ustadz Zulkarnaen, Penanggung Jawab kelas ketika diwawancarai via telepon, pada Senin (27/4) lalu.

Pengertian dari “Bathsul Kutub” sendiri adalah mengkaji kitab atau buku. Di sini mereka diberikan materi pembelajaran mulai dari membaca, menerjemahkan, memahami,  sampai mengkaji isi kitab secara mendalam. Kitab yang dikaji boleh kitab Islam tentang apa saja sepanjang kitab tersebut belum ada harakat atau tanda bacanya. Maklum, tujuan akhir kelas ini adalah peserta mendapat ilmu-ilmu alat alias ilmu gramatikal dalam mengkaji kitab berbahasa Arab, seperti ilmu nahwu dan shorof.

Ilmu nahwu sendiri adalah ilmu untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika masih berupa kata tunggal atau satu (mufrod) atau sudah tersusun/tersambung (murokkab). Sedangkan ilmu shorof adalah bagian dari ilmu nahwu yang membahas kata dalam keadaan tunggal atau mufrod.

“Intinya kita membekali keterampilan untuk membaca kitab, melatih siswa untuk bisa membaca kitab karena kan membaca kitab kita harus mempunyai ilmu dan itu harus terus dilatih supaya bisa. Serta harapan kedepannya para peserta ini mempunyai kemampuan untuk bisa membaca kitab dan hasilnya bisa menganalisis sendiri kitab apapun itu karena mereka sudah dilatih sebelumnya,” ujar Ustadz yang biasa dipanggil dengan Ustadz Zul ini.

Kelas Bahstul Kutub diadakan setiap hari Selasa jam 10 pagi dan Ahad jam 4 sore dengan 24 kali pertemuan, bertempat di GSS (Gedung Sayap Selatan) Masjid Salman ITB. Pesertanya terbuka khusus bagi mereka yang sudah mempunyai dasar paham bahasa Arab.

Sayang sekali memang jika sebuah masjid berdiri semata-mata untuk shalat atau mengaji tanpa ada pengkajian kitab di dalamnya. Betapa mulianya bila sebuah masjid mampu menjadi rumah dalam arti sebenar-benarnya rumah bagi umat; siapa pun itu tanpa terkecuali. [Ed: Dh]

Bustomi

menunggu sang ulat yang mengurung dirinya di dalam kepompong untuk menjadi kupu-kupu...

*

*

Top