Budaya Menulis “Asal Jadi” dan “Cuap-Cuap” Mahasiswa

(Gambar: saamfredymarpaung.wordpress.com)

(Gambar: saamfredymarpaung.wordpress.com)

Mahasiswa tentunya selalu dituntut untuk menulis. Mulai dari menulis laporan dan makalah untuk tugas kuliah, hingga skripsi sebagai tulisan akhir penentu kelulusan meraih gelarnya. Ditambah lagi dengan berlakunya kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 tentang prasyarat kelulusan mahasiswa, yaitu harus memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah.

Apabila melihat sederetan tulisan yang harus ditulis mahasiswa tersebut, semua mahasiswa dianggap sudah bisa menulis. Kata “menulis” sebagai bentuk proses membuat huruf-huruf agar dapat terbaca dan dimengerti. Tetapi, apabila dikaji dari konteks “literasi” atau konten tulisan yang disajikan, kebanyakan tulisan para mahasiswa masih kurang sekali menggambarkan konsep itu.

Para mahasiswa tidak banyak mengembangkan apa-apa yang mereka dapat dari perkuliahannya. Tulisan-tulisan yang dibuat hanya sebagai pemenuhan syarat turunnya nilai. Tak sedikit yang menulis dengan asal-asalan, bahkan tak segan melakukan plagiarisme, yang merupakan salah satu kejahatan terbesar dalam dunia kepenulisan. Salin-tempel tulisan yang diperoleh di internet, mengetik ulang isi buku dengan sama persis, dan berbagai hal lainnya kerap dilakukan mahasiswa yang notabebe adalah kaum akademisi. Orang berpendidikan tinggi yang harusnya tabu melakukannya.

Adapun jenis tulisan lain yang kini sedang digandrungi mahasiswa adalah penulisan dalam media jejaring sosial. Blog adalah salah satu wadah pengembangan yang umum dipakai oleh para mahasiswa yang cenderung rajin menulis. Kalaupun tidak, biasanya mereka memiliki media jejaring sosial lainnya untuk sekadar “bercuap-cuap” di sana, misalnya Facebook, Twitter, dan sebagainya. Tentunya, tulisan yang dihasilkan dari penulisan yang sekadar “cuap-cuap” sangat jauh dari budaya literasi yang seharusnya dimiliki para kalangan akademisi, walaupun jumlah tulisan yang dihasilkannya relatif banyak.

Budaya menulis mahasiswa yang “asal jadi” atau sekadar “cuap-cuap” tersebut sudah seharusnya digantikan dengan budaya literasi yang sesungguhnya. Hal ini dapat dilakukan dengan penyadaran pentingnya membaca sebagai sumber memulai budaya literasi. Dengan membaca, mahasiswa akan banyak mendapat berbagai hal yang menyangkut literasi, mulai dari bahasa hingga ranah ide. Membaca juga dapat membuat mahasiswa menghargai karya yang ditulis oleh orang lain. “Budaya membaca yang rendahlah yang menyebabkan budaya literasi mahasiswa kurang,” ujar Isman Rahmani Yusron, Ketua Umum Unit Pers Mahasiswa (UPM) UPI, saat diwawancarai Salman Media (12/2).

“Kalau menulis, semua orang juga bisa menulis. Hanya saja, kadang “literasi”-nya yang rendah,” ujar mahasiswa yang pernah aktif di Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) ini.

Menurut analisisnya ketika aktif di forum tersebut, banyak tulisan mahasiswa yang masuk di sana, tapi yang layak disebut “tulisan” masih rendah. Tentunya penyebab hal tersebut adalah budaya literasi yang masih rendah tadi.

Selain dengan membaca, budaya literasi mahasiswa juga bisa ditingkatkan dengan memperbanyak kajian dan penalaran agar tulisannya lebih berbobot. Hal ini dapat diperoleh dengan bergabung ke dalam komunitas-komunitas kepenulisan di kampus, seperti unit pers mahasiswa, lembaga penelitian mahasiswa, dan sebagainya. Sayangnya, perbandingan antara mahasiswa yang peduli budaya literasi dengan yang pasif masih tergolong jomblang apabila dilihat dari mereka yang aktif dalam kelompok-kelompok tersebut.

Di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mempunyai mahasiswa lebih dari tiga puluh ribu orang, hanya 113 mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota dari Unit Kegiatan Mahasiswa bidang kepenulisan di sana. Tentunya, walaupun ditambah para mahasiswa di luar organisasi tersebut yang peduli dengan budaya literasi, tetap saja masih sedikit.

*

*

Top