Merayakan Tahun Baru: Boleh, kah?

Foto: factsanddetails.com

Foto: factsanddetails.com

Perayaan tahun baru, seperti sudah menjadi tradisi bagi seluruh penduduk dunia, tak terkecuali di Indonesia. Berbagai persiapan yang menghabiskan biaya yang tidak sedikit, dilakukan untuk mengisi perayaan tahun baru yang identik dengan pesta dan hura-hura. Banyak orang berbondong bondong datang ke suatu tempat hanya untuk menanti datangnya hari esok.

Beberapa orang berpendapat bahwa perayaan tahun baru hanya perbuatan yang mubazir dan berlebihan. Widayati bertutur bahwa perayaan tahun baru hanya hura-hura dan sering membuat celaka, macet, dan kadang kadang menjadi ajang para pencopet untuk mencari korban. Banyak rumah-rumah yang kemalingan karena ditinggal penghuninnya. Lain lagi dengan Sadewa, yang mengganggap perayaan tahun baru menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama teman-teman, apalagi setelah ujian dan bertepatan dengan hari libur.

Lalu bagaimana hukumnya merayakan tahun baru bagi seorang muslim?

Perayaan tahun baru masehi sebenarnya merupakan budaya dari umat Kristiani. Awalnya perhitungan tahun Masehi dilakukan oleh biarawan Katolik pada tahun 527 M dengan bertitik tolak pada tahun kelahiran Nabi Isa AS. Tahun kelahiran Nabi Isa dihitung sebagai tahun pertama.

Dengan berjalannya waktu, perhitungan tahun Masehi mengalami beberapa penyempurnaan sejak zaman Romawi oleh Julius Caesar. Penanggalan Masehi dibuat berdasarkan perhitungan astrologi Mesopotamia dan banyak menggunakan nama-nama dewa Romawi sebagai nama bulannya. Hingga saat ini seluruh dunia menggunakan penanggalan Masehi yang ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristiani.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:

”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud).

Hadist tersebut memberi peringatan kepada umat muslim agar tidak meniru kebiasaan kaum non muslim, termasuk perayaan tahun baru.  Islam sendiri memiliki perayaan tahun baru, yaitu tahun baru Muharram. Namun ironisnya, tahun baru Islam tidak sepopuler tahun Baru umat Kristiani, bahkan di kalangan umat muslim di Indonesia. Buktinya, pemerintah tidak sampai melakukan persiapan apapun menyambut tahun baru Muharram. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam.

Bagaimana jika tahun baru dirayakan dengan mengadakan kegiatan doa bersama, atau ibadah lain? Sebenarnya ibadah yang kita lakukan selama ini adalah mencontoh ajaran Rasullah SAW. Sedangkan Rasullulah tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan ibadah dalam rangka tahun baru.

Jadi sebenarnya kegiatan ibadah apapun yang dilakukan karena momen tahun baru itu tidak diperbolehkan, karena niatnya sudah salah. Namun apabila melakukan ibadah pada hari itu tanpa menghubungkan ibadah tersebut dengan moment tahun baru, tetapi seperti ibadah hari-hari biasa, maka hal tersebut diperbolehkan.

Allah berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 18:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah (tiap-tiap) diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sudah sepatutnya kita menggunakan waktu dengan melakukan aktivitas yang bermanfaat. Karena segala sesuatu yang kita lakukan akan kita pertanggung jawabkan di hari akhirat kelak.

Related posts

2 Comments

*

*

Top